Setiap daerah memiliki budaya dan
adat istiadat masing-masing. Adat istiadat adalah perilaku budaya manusia dan
aturan yang telah ditetapkan dan diterapkan oleh manusia. Adat istiadat
bersifat ketat dan mengikat, karena adat istiadat telah dipatuhi dan
dilaksanakan masyarakat sejak lama. Adat istiadat biasanya digunakan sebagai
hukum adat.
Budaya Islam berkembang dengan cara
yang berbeda. Perkembangan budaya Islam dipengaruhi oleh tempat yang didudukinya.
Perbedaan tersebut dikarenakan pencampuran agama dan budaya setempat yang
berbeda. Akhirnya, setiap wilayah memiliki ciri khas sendiri dalam menjalankan
nilai keislaman. Budaya yang diakomodir manusia tidak boleh menyimpang dari
syariat ajaran Islam.
Surat Al-Hujurat ayat 13
menjelaskan, bahwa Allah menciptakan manusia dari berbagai suku bangsa. Hal
tersebut bertujuan agar manusia saling mengenal satu sama lain. Perkenalan bisa
menjadikan hubungan manusia semakin erat. Firman Allah tersebut
diinterpretasikan menjadi lokus budaya Islam. Pengertian lokus budaya Islam
adalah tempat untuk mengakomodir kebudayaan yang mengandung pesan dari
al-qur’an dan hadis. Lokus budaya
Islam tidak memecah Islam, tetapi lokus budaya Islam mempererat hubungan Islam
di masing-masing wilayah. Perbedaan kebudayaan yang ada di setiap wilayah
merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi prinsip Bhineka Tunggal Ika,
yang artinya berbeda-beda tapi tetap satu juga.
Pada tulisan ini, penulis akan memfokuskan
tulisannya pada lokus budaya Islam yang ada di Mojokerto. Penulis akan
menjelaskan beberapa budaya yang ada di Kota Mojokerto, seperti budaya tempat,
budaya waktu, adat istiadat, dan tempat bersejarah yang ada di Kota Mojokerto.
Mojokerto merupakan salah satu kabupaten
yang ada di provinsi Jawa Timur. Mojokerto terkenal dengan sebutan bekas Kerajaan
Majapahit. Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar pada masa
dahulu. Mojokerto memiliki banyak warisan budaya, seperti wisata sejarah,
kebudayaan seni, dan makanan khas.
Mojokerto memiliki tradisi budaya
setiap tanggal satu Suro. Tradisi tersebut dikenal dengan sebutan tradisi
Grebek Suro Majapahit. Tradisi ini dipelopori oleh Yayayasan Among Tani.
Beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan saat tradisi Grebek Suro Majapahit
adalah ziarah ke makam leluhur, pentas kesenian dan makanan rakyat, arak-arakan
dengan kostum era kejayaan Majapahit, dan ditutup dengan pagelaran wayang
kulit. Tradisi Grebek Suro Majapahit bertujuan untuk meminta keselamatan dan
kesejahteraan bagi bumi nusantara.
Selain tradisi Grebek Suro Majapahit,
Mojokerto juga memiliki tradisi Getah Getih Majapahit. Getah Getih Majapahit
dilaksanakan setiap tanggal kelahiran Kerajaan Majapahit. Tanggal 15 bulan
Kartika tahun 1215 atau tanggal 10 November 1293 merupakan tanggal penobatan
Raden Wijaya sebagai raja Saka. Ia dinobatkan dengan nama resmi Kertarajasa
Jayawardhana. Rangkaian tradisi Getah Getih Majapahit meliputi arak-arakan
memakai pakaian kerajaan dan membawa bendera merah putih yang panjang. Tradisi
ini ditutup dengan proses kesenian untuk mengenang Kerajaan Majapahit. Rute
Getah Getih Majapahit berakhir di Candi Brahu dan puncaknya dilakukan pada
malam hari. Kita bisa melihat dokumentasi singkat proses Getah Getih Majapahit
di intagram asli Mojokerto.
Mojokerto memiliki budaya atribut
berupa batik. Batik merupakan sektor usaha yang banyak ditemukan di daerah
Trowulan. Kita bisa menjumpai pengrajin batik di Desa Bejijong, Trowulan,
Mojokerto. Batik Majapahit mengangkat peninggalan kerajaan Majapahit. Ciri khas
motifnya berupa ukiran gambar museum, candi, tanaman, dan bunga yang pernah ada
di masa Kerajaan Majapahit. Batik yang ada di setiap daerah memiliki khas
sendiri, sedangkan batik di Mojokerto menonjolkan segi motifnya.
Makanan khas Mojokerto adalah
onde-onde. Keberadaan onde-onde sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit.
Karena makanan ini sangat populer, Mojokerto mendapat julukan sebagai kota
onde-onde. Onde-onde terbuat dari tepung terigu atau tepung ketan. Setelah itu,
onde-onde bisa direbus atau digoreng dan permukaannya ditaburi wijen. Onde-onde
memiliki berbagai varian rasa, namun varian yang terkenal di Mojokerto adalah
onde-onde isi kacang hjau. Kita bisa membeli onde-onde di pasar tradisional
atau pedagang kaki lima.
Beberapa akhir bulan kemarin, ada
beberapa event penting di Mojokerto. Pada tanggal 24 September, ada
tradisi bazar jajanan tradisional di Wisata Waduk Tanjungan. Tradisi ini
bertujuan untuk melestarikan makanan tradisional dan menggali kreatifitas produk
unggulan masyarakat sekitar. Pada tangal 30 September, ada pesta rakyat dan
pawai yang berada di Lapangan Surodinawan. Di dalam pesta rakyat tersebut,
pemerintah setempat mengadakan pemecahan rekor muri sejumlah 20 ribu onde-onde.
Mojokerto memiliki berbagai macam obyek
tempat wisata yang bisa dikunjungi masyarakat umum. Jenis tempat wisata tersebut
bisa dijadikan pilihan berlibur. Mojokerto memiliki tempat wisata alam dan
wisata tempat sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit. Berbagai tempat wisata
yang ada di Mojokerto tidak hanya diminati oleh masyarakat sekitar atau
wisatawan domestik saja, tetapi wisatawan mencanegara juga tertarik dengan
obyek wisata sejarah yang ada di Mojokerto.
Beberapa obyek wisata alam yang ada di
Mojokerto adalah Air Terjun Coban Canggu, Pemandian Ubalan, Air Terjun Dlundung,
dll. Adapun obyek wisata peninggalan Kerajaan Majapahit yang ada di Mojokerto
adalah Balai Pelestarian Peninggalan Mojokerto, Situs Kedaton, Candi Bajang
Ratu, Candi Brahu, Candi Tikus, Candi Wringin Lawang, Kolam Segaran, Mahavihara
Majapahit atau Patung Budha Tidur, Pendopo Agung Trowulan, Museum Trowulan, dan
Candi Jalatunda.
Selain memiliki tempat wisata alam dan
wisata sejarah, Mojokerto juga memiliki tempat hangout yang sering
dikunjungi masyarakat sekitar. Rolak Songo merupakan obyek wisata buatan yang
terletak di Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Rolak
Songo merupakan bangunan berupa pintu air pada Sungai Brantas yang dibuat sejak
zaman Belanda. Selain kegunaan Rolak Songo sebagai pintu air, Rolak Songo juga
digunakan sebagai jembatan penghubung antara Mojokerto dan Sidoarjo untuk
menyeberangi Sungai Brantas. Rolak Songo sering dijadikan tempat untuk
menikmati senja dan menikmati kuliner di sekitar.
Mojokerto juga memiliki obyek wisata religi
berupa Makam Troloyo. Makam Troloyo menyimpan banyak sejarah. Sejarah tersebut
masih terkenang di hati masyarakat sampai saat ini. Makam Troloyo terletak di daerah
Sentonorejo, Kecamatan Trowulan. Syeikh Djumadil Qubro adalah salah satu tokoh
yang dimakamkan disana. Beliau merupakan seorang tokoh yang sering disebutkan
dalam berbagai cerita rakyat. Beliau merupakan pelopor penyebaran Islam di Jawa
dan perintis pertama penyebaran agama Islam di Jawa. Beliau adalah wali tertua
di tanah Jawa sebelum Wali Songo. Beliau adalah seorang da’i dari negara Persia
yang diutus untuk menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.
Menurut keyakinan masyarakat sekitar, Syeikh
Djumadil Qubro dibantu oleh rekannya yang bernama Syeikh Subakir dalam
menyebarkan Islam. Syeikh Djumadil Qubra mempunyai tiga orang putra. Putra
pertamanya adalah Ali Barakat Jainul Alam dan memiliki cucu bernama Malik
Ibrahim (Gresik). Putra yang kedua adalah Ali Nurul Alam dan memiliki cucu bernama
Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Putra terakhir adalah Ibrahim
Asmaraqandi. Dalam dakwahnya ke Jawa, putra bungsunya ikut menyertai Syeikh
Djumadil Qubro, yaitu Ibrahim Asmaraqandi. Ibrahim Asmaraqandi memberanikan
diri mengabdi pada raja Kuntoro Binatoro Mojopohit dan dikawinkan dengan putri
Condro Dewi Condro Muka. Pada akhirnya, beliau pindah ke Champa dan mempunyai
putra Maulana Ishak (ayah Sunan Giri) dan R. Rahmat (Sunan Ampel). Syeikh
Djumadil Qubro tetap berdakwah di Jawa sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di
Troloyo.
Desa
Plososari juga memiliki adat istiadat dan kebudayaan sendiri. Desa Plososari
merupakan desa kelahiran penulis. Desa Plososari merupakan salah satu desa yang
berada di Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Dalam setiap momen pernikahan
atau sunatan, warga Desa Plososari selalu melakukan adat istiadat tertentu.
Satu hari menjelang acara, pihak keluarga mengeluarkan sedekah berupa makanan
untuk masyarakat sekitar. Makanan tersebut dibawa ke kuburan dan ploso. Ploso
adalah sejenis pohon besar yang dulu ada di tengah Dusun Kedungklotok. Masyarakat
biasanya melakukan tahlil dan ditutup dengan makan bersama di kuburan dan
ploso. Hal ini dilakukan untuk menghormati nenek moyang mereka dan mendokan
keluarganya yang telah meninggal.