Kamis, 10 November 2016

Integrasi Budaya Agama Dengan Budaya Indonesia



Pengetahuan tentang masalah agama dan budaya sudah tidak asing lagi di kehidupan manusia. Antara agama dan budaya tidak bisa dipisahkan dan saling berhubungan satu sama lain. Manusia di dunia tidak terlepas dari agama yang dianut sebagai pedoman kehidupannya. Dan kental pula dengan kebudayaan yang ada pada daerah tempat tinggalnya sendiri. Budaya yang diwariskan oleh nenek moyang zaman terdahulu tentunya akan dijaga dan dilestarikan oleh para generasi penerusnya.
Pengaruh Islam dalam kebudayaan nusantara telah berlangsung sejak beberapa abad yang lalu. Banyak pendapat yang mengatakan daerah asal dan pembawa Islam ke nusantara. Pertama, mereka yang mengatakan bahwa daerah asal Islam dan pembawanya adalah para dai yang datang langsung dari daerah-daerah Arabia (Timur Tengah= Sekarang). Kedua, mereka yang mengatakan bahwa Islam adalah para pedagang dari daerah-daerah India (Gujarat), Persia dan sekitarnya. Ketiga, mereka yang mengatakan bahwa Islam masuk ke nusantara oleh dai sekaligus pedagang dari China, Champa dan lain-lain. Jadi, pendapat kedua mengatakan bahwa Islam tidak langsung dari sumbernya.
Sarana islamisasi Indonesia memiliki berbagai macam cara. Diantaranya melalui sarana perdagangan, sarana perkawinan atau amalgamasi, sarana kebudayaan (kesenian), sarana politik kekuasaan, dan sarana pendidikan dan mistik. Dari sini sudah terlihat bahwa antara islam dan budaya yang ada di Indonesia memiliki integrasi yang kuat. Karena masuknya islam di Indonesia melalui kebudayaan yang akhirnya bisa diterima oleh masyarakat luas. Bahkan kombinasi antara dua entitas budaya yang berbeda dari unsur kebudayaan Hindhu-Budha yang masuk sebelum Islam dan kebudayaan pada era kolonial , menghasilkan keragaman budaya yang sangat kaya.
Salah satu kelebihan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia adalah kemampuannya untuk bertahan dalam menerima arus budaya baik budaya materiil maupun immaterial. Sejak periode pra sejarah kemampuan ini terlihat jelas dari berbagai ragam corak budaya asing yang diadopsi tanpa harus mengorbankan khazanah budaya yang dimilikinya. Ketika bangsa Indonesia memeluk agama Islam dan mengembangkan Islam di masyarakat sekitarnya, kemampuan ini dipergunakan juga sebagai sarana islamisasi. Budaya lokal yang selama ini telah menjadi trade mark masyarakat dikonservasi/ dilestarikan sedemikian rupa sehingga masyarakat yang masuk Islam tidak merasa terbebani dengan beban-beban psikologis. Mereka merasa masih dalam situasi budaya lama yang menjadi bagian hidupnya selama ini.
Di antara bukti kemampua mereka dalam mengkonservasi/ melestarikan budaya setempat adalah upaya pelestarian kebudayaan/kesenian yang sekaligus digunakan sebagai sarana proses islamisasi di Nusantara. Kesenian-kesenian tersebut melalui :
Ø  Seni bangunan dan dalam hal ini contoh bangunan masjid kuno yang masih dilestarikan dan dijadikan acuan tata letaknya pada pembangunan masjid zaman sekarang
Ø  Seni ukir (ragam hias) yang dipergunakan sebagai sarana islamisasi periode awal adalah berupa seni ukir yang bermotif berbunga-bunga. Sebagaimana diketahui bahwa islam melarang pembuatan patung secara natural, baik berupa binatang apalagi manusia. Oleh sebab itu kemampuan membuat seni ukir diteruskan dan dialihkan untuk memahat atau mengukir gambar-gambar bunga, tulisan arab kaligrafi yang mengutip dari al-qur’an maupun hadist.
Ø  Seni sastra baik lisan maupun tulis. Dewasa ini seiring dengan berkembangnya studi akademik, maka sastra lisan sudah banyak yang dikodifikasi menjadi sastra tulis yang kemudian banyak disimpan di berbagai tempat, mulai dari museum, koleksi pribadi, maupun perpustakaan-perpustakaan.
Para penutur /pencerita tutur jawa mengaitkan keberadaan kerajaan Hindhu terakhir di Jawa yakni Majapahit dengan munculnya kerajaan baru, Demak yang berintikan agama Islam. Dengan runtuhnya Majapahit yang Hindhu dan digantikan oleh Demak yang Islam bukan berarti merupakan akhir segala-galanya bagi orang Jawa, sebab islam justru meneruskan dan melestarikan budaya lama tersebut. Istilah ini yang kemudian disebut dengan “Mengkonservasi Kebudayaan Majapahit” oleh Habib Mustopo. Seperti pemahaman pada kata “Kalimasada” yang berasal dari kata “Kalimahusada”. Kalima berarti lima husada berarti obat. Dan ini sebagaimana yang secara umum didendangkan sebagai pujian enjelang sholat rawatib. Lima obat tersebut adalah membaca al-qur’an dengan memahami artinya, mengerjakan sholat malam, selalu bersahabat dengan orang-orang sholeh, memperbanyak dzikir di waktu malam hari, tidak boleh terlalu kenyang. Dalam kalimatnya di bahasa jawa adalah:
“Tombo ati iku lima warnane. Moco qur’an angen-angen sak maknane, kaping pindo sholat wengi lakono, kaping telu wong kang sholeh kumpulono, kaping papat dzikir wengi ingkang suwe, kaping limo kudu weteng ingkang luwe”

Sebagai generasi penerus bangsa, kita harus tetap menghargai keanekaragaman budaya yang sudah ditinggalkan oleh nenek moyang kita. Dan kita harus memiliki sifat menghargai dan menerima budaya dari golongan lain yang berbeda. Sebagai seorang muslim panutan yang bisa kita lihat adalah Nabi Muhammad SAW yang mampu menghargai dan menghormati golongan yang berbeda. Bahkan semasa hidupnya, Nabi tetap menghormati orang-orang kafir yang selalu mendzolimiNYA. “Islam itu sesungguhnya lebih dari satu sistem agama saja. Namun Islam adalah satu kebudayaan yang lengkap” Ungkap        H.A Ghibab dalam bukunya yang terkenal Wither Islam.
Ajaran islam menganjurkan umatnya untuk untuk melakukan segala upaya demi kebaikan dan kesejahteraan umat manusia, termasuk dalam pengembangan kebudayaan dan sikap saling menghormati antar golongan yang berbeda. Upaya tersebut juga telah menghasilkan suatu prestasi terbaru yang dikenal dengan sebutan “Peradaban Islam” yang dalam sejarahnya telah memberikan andil yang cukup besar bagi kemajuan peradaban dunia.

Written By: Oktaviani Putri Dita
Mahasiswa Manajemen Dakwah UIN Sunan Ampel Surabaya

Sarjana Manajemen Dakwah

22 Februari 2019                 Sudah satu tahun lalu berlalu, namun keinginan untuk celebrating moment lewat tulisan baru tereali...