Kamis, 22 Desember 2016

SELAMAT HARI IBU ...




Orang memaknai hari ini adalah hari ibu sedunia. Namun bagiku bukan hanya hari ini saja yang patut disebut sebagai hari ibu. Sepanjang hari mulai di kandungan  sampai lahir ke dunia ini, bahkan sampai sebesar dan sedewasa ini adalah hari spesial untuk ibu.
Ibu... Ku ingin kembali ke tanah lapang mendekap di dalam dekapanmu. Ku ingin berlindung dari segala kebisingan dunia yang mencengkeram ini. Ku ingin menghabiskan hari-hariku dengan berada di dekatmu sembari melihat senyum tawa kebahagiaanmu. Ku rindu dengan suara teriakan pagimu yang begitu lantang membangunkanku dari tidur. Ku rindu dengan aroma masakan rendang yang sering kau buat. Ku rindu dengan uluran tangan ketika aku hendak berjabat tangan menuju sekolah. Ku rindu dengan sejuta introgasi pertanyaanmu ketika aku pulang telat.
Malam ini bersama tumpukan tugas dan tanggung jawab yang aku pegang dengan ditemani layar laptop yang masih menyala sampai larut , ku titipkan salam rinduku untukmu ibu. Rindu yang tak sempat diucapkan awan ketika hujan menghapusnya. Rindu yang tak sempat disampaikan siang ketika senja telah menyapa.
Perjalanan hidup ini begitu keras bu... ingin ku menyisihkan waktu sehari  untuk menceritakan semua hal yang sudah kualami. Menjadi orang dewasa terlalu banyak tanggung jawab, tidak seperti saat masa kecilku dahulu yang selalu kau bantu ketika mendapat kesulitan dan masalah. Saat ku belajar berjalan dan terjatuh kau mengulurkan tanganmu untuk bergegas membantu. Saat ku menangis karena bertengkar dengan teman sebangku kau ikut merelai dan menyelsaikan persoalan kami. Namun saat ini kau mungkin hanya bisa menitipkan doa kepada para malaikat untuk disampaikan kepada tuhan. Percayalah bu.. hanya raga ini saja yang tumbuh semakin besar, namun tidak dengan jiwaku yang tak bisa jauh darimu.
Ibu...aku selalu meminta kepada tuhan di setiap ibadahku agar selalu memberikan kesehatan dan kebahagiaan di umurmu. Aku berjanji akan berjuang dan pulang dengan membawa sejuta kebahagiaan yang kau nantikan selama ini. Tersenyumlah selalu karena senyummu adalah sumber kekuatan bagiku untuk menjalani lika-liku kehidupan yang keras ini. Doakan anakmu agar selalu berjalan di atas ridho ilahi. Aku akan tidur malam ini dengan membawa rinduku padamu bu...
I LOVE YOU SO MUCH MOM ...

Senin, 05 Desember 2016

Sakit Itu Membawa Berkah



Pernahkah kau merasakan trauma berat karena kecelakaan hebat di jalan? Atau mungkin trauma karena suatu kejadian yang memilukan. Yah perasaan itu pernah saya alami. Baru saja memasuki bulan pertama masuk kuliah di semester 3, kebahagiaan masih menyinari wajah-wajah kami. Setelah sekian lama melewati masa liburan panjang tidak berjumpa dan bercanda ria dengan kawan yang gila, kawan sekaligus keluarga MD ’15 yang tak kenal waktu untuk selalu memberikan senyuman indah setiap hari.
Kebahagiaan itu masih terlintas sekilas di wajah dan berganti dengan trauma besar karena peristiwa kecelakaan yang menimpaku. Bersama air hujan turun seakan ikut menyumbang rasa kesedihan akibat sakit luar biasa yang ku rasakan saat itu. Bermula setelah pulang dari rumah teman karena rasa capek yang begitu terasa dan terburu mengejar waktu untuk segera sampai rumah karena suasana mendung mulai menerkam. Sampai pada belokan tajam tepat dengan alas aspal yang dipenuhi kerikil dan pasir, seperti kejadian sesaat namun menyisakan bekas yang mendalam. Lajur sepeda berhembus kencang dan ku tak kuasa mengendalikan rem sepeda karena ban rodanya tergelincir aspal yang licin. Tubuhku berbaring tak berdaya di atas aspal bersama tetesan darah yang mengalir dari ujung kepala melewati kaca helm yang ku kenakan. Suara jantung yang kuat sekali bunyinya. Sembari mulut tak mampu berucap apapun. Namun beruntungnya masih ada seorang laki-laki paruh baya yang masih memiliki hati nurani bersedia menolong dan membawa tubuh yang tak berdaya ini ke Puskesamas terdekat.
Tidak ada kata dan harapan yang terucap selain sebutan dzikir kepada sang pemilik kehidupan. Berharap ada kesempatan untuk memperbaiki hidup sebelum nyawa ini dicabut setelah ini. Namun di atas kasur puskesmas tubuh ini masih lemas tak berdaya menunggu bantuan dari pihak medis. Sungguh kejam dunia medis, ketika persepsiku dulu mengatakan betapa keren dan gaulnya memakai baju putih berlatar belakang dunia kesehatan dan tentunya dengan gaji yang besar dan pekerjaannya yang mulia membantu menyelamatkan nyawa orang lain. Namun pasca kecelakaan itu semua persepsiku 360 derajat. Dengan kondisi tubuhku yang lemas tak berdaya membutuhkan pertolongan medis, namun mereka para suster dan asisten medis sama sekali tidak peduli dan masih disibukkan dengan pekerjaannnya menghitung uang masuk puskesmas hari itu. Oh tuhan mereka lebih memilih uang daripada menyelamatkan nyawa seseorang. Saat itu juga aku mengecam bahwa pelayanan medis tidak sebaik pelayanan pada rumah sakit besar yang dibayar orang-orang berduit. Lalu apakah rakyat kecil seperti kami tidak berhak mendapat keadilan untuk nyawa kami sendiri?
Tuhan, andai aku memiliki kesempatan menjadi seperti mereka yang bergelut di dunia kesehatan, maka kejadian seperti ini tidak akan pernah ku biarkan. Paradigma pemikiran mereka akan ku ganti dengan paradigma toleransi yang jauh lebih bermartabat dan manusiawi. Bahkan mungkin jika aku menjadi pimpinan manajer di puskesmas tesebut, akan ku berhentikan kerja secara tidak terhormat mereka yang telah melanggar sumpahnya untuk menyelamatkan nyawa seseorang.
Menunggu dan menunggu hanya itu yang bisa ku lakukan di atas ranjang puskesmas yang sempit itu. Sampai pada akhirnya ada seorang perawat perempuan yang menangani lukaku saat itu. Anehnya dia tidak mengerti apa-apa tentang luka yang aku alami pasca kecelakaan itu. Dia masih mendiskusikan dengan perawat yang lain untuk menangani luka di wajah yang darahnya masih mengalir deras. Sampai pada akhirnya ada 3 perawat yang turun ikut menangani. Mereka mengambil kesimpulan agar aku dirujuk ke rumah sakit besar untuk mendapat tindakan intensif yang lebih lanjut. Luka yang kualami lumayan serius karena  mengenai wajah dan akan fatal jika ditangani secara tidak tepat. Betapa takut perasaanku saat itu saat perawat menyebut kara rumah sakit. Yang terbayang adalah jarum suntik, ruang operasi dan jahitan luka. Selama ini aku adalah perempuan yang paling takut dengan jarum suntik dokter. Setiap periksa ke dokter hanya resep obat yang diminta, bahkan melihat jarum suntik saja merengek menangis. Namun pada kesempatan kali ini aku harus siap bersahabat dengan ajrum suntik dan jahitan agar lukaku bisa teratasi dengan tepat.
Aku dirujuk dibawa ke rumah sakit besar dan mulai mendapat penanganan dari dokter. Melihat jarum suntiuk siap menyapa tubuhku, mata langsung ku pejam sembari ku genggam errat tangan ibu yang setia menunggu di sampingku saat itu. Ternyata jarum suntik tidak seseram yang ku bayangkan selama ini. Seperti digigit semut sakitnya hanya sekilas lewat setelah itu sudah tidka terasa karena aku memakai bius. Dan pasca proses jahitan luka, wajahku harus tertutup separuh oleh perban luka yang lumayan besar dan mengganggu. Mataku bengkak kebiruan dan tidak bisa terbayang saat itu betapa hancur mukaku pasca kecelakaan tragis itu.
Kecelakaan itu membuat aktivitas perkuliahanku terganggu. Selama satu minggu aku absen dari kelas karena masih dalam proses penyembuhan intensif. Bersyukur memiliki teman layaknya keluarga yang sangat peduli kepada kondisiku. Mereka saling menanyakan kabarku satu sama lain bahkan ada yang memiliki niat untuk menjenguk ku dari surabaya- ke mojokerto. Namun aku tidak mengizinkannya karena aku berfikir lukaku sudah lumayan sembuh dan tidak perlu sejauh itu menjengukku ke rumah. Hanya dengan doa dan rasa kepedulian teman-teman yang tinggi sudah cukup bagiku sebagai penghibur kesedihan saat itu. Ternyata masih banyak orang yang menyayangi dan mengasihiku Tuhan.
Absen kuliah selama satu minggu membuatku ketinggalan banyak informasi seputar kampus. Termasuk salah satu diantaranya adalah informasi tentang pendaftaran beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi bidang akademik. Sudah sejak lama ku tuis dalam daftar impianku bahwa aku harus bisa mendapat beasiswa untuk mebantu meringkakan beban orang tua dalam membiayai pendidikanku. Terlebih aku masih mempunyai seorang adik yang masih kecil dan membutuhkan banyak biaya untuk masa depannya. Sekuat tenaga aku nekat untuk tetap mendaftar beasiswa itu. Dengan kondisi yang masih belum fit aku balik ke Surabaya untuk mengurus berkas-berkas yang harus dilengkapi sebagai persyaratan beasiswa. Dan akhirnya semua selesai berkat bantuan teman-teman yang saat itu seperjuangan memperebutkan beasiswa kampus.
Sekitar dua minggu dari penutupan pendaftaran beasiswa pengumuman itu keluar. Awalnya aku tidak mengetahui info apapun tentang pengumuman mahasiswa yang lolos dalam beasiswa itu. Namun salah satu kakak kelasku memasang DP via BBM nya dengan selembar kertas bukti pengumuman. Tanpa rasa malu aku bertanya dengan mengirim personal chat mengenai apa isi pengumuman itu, dan betapa mengejutkan ketika dia memberi ucapan selamat karena ternyata namaku menajdi salah satu mahasiswa yang lolos beasiswa akademik dan berada di urutan teratas dari keseluruhan yang lolos di prodiku. Tidak ada kata lain slain ucapan syukur yang begitu besar kepada Allah yang telah memberi berkah dan kejaibannya pasca kecelakaan itu. Besok pagi aku langsung menemui pihak dosen yang bersangkutan untuk menandatangani surat perseujuan kontrak beasiswa. Dan betapa bahagianya kedua orang tuaku ketika mereka aku kirim kabar bahagia ini. Setidaknya aku bisa membahagiakan mereka walau tidak seberapa.
Dan percayalah Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan manusia. Setiap cobaan pahit yang menimpa kita apabila kita hadapi dengan hati ikhlas pasti akan berbuah keberkahan dan hikmah yang luar bisa tak terkira di akhir.

Kamis, 10 November 2016

Integrasi Budaya Agama Dengan Budaya Indonesia



Pengetahuan tentang masalah agama dan budaya sudah tidak asing lagi di kehidupan manusia. Antara agama dan budaya tidak bisa dipisahkan dan saling berhubungan satu sama lain. Manusia di dunia tidak terlepas dari agama yang dianut sebagai pedoman kehidupannya. Dan kental pula dengan kebudayaan yang ada pada daerah tempat tinggalnya sendiri. Budaya yang diwariskan oleh nenek moyang zaman terdahulu tentunya akan dijaga dan dilestarikan oleh para generasi penerusnya.
Pengaruh Islam dalam kebudayaan nusantara telah berlangsung sejak beberapa abad yang lalu. Banyak pendapat yang mengatakan daerah asal dan pembawa Islam ke nusantara. Pertama, mereka yang mengatakan bahwa daerah asal Islam dan pembawanya adalah para dai yang datang langsung dari daerah-daerah Arabia (Timur Tengah= Sekarang). Kedua, mereka yang mengatakan bahwa Islam adalah para pedagang dari daerah-daerah India (Gujarat), Persia dan sekitarnya. Ketiga, mereka yang mengatakan bahwa Islam masuk ke nusantara oleh dai sekaligus pedagang dari China, Champa dan lain-lain. Jadi, pendapat kedua mengatakan bahwa Islam tidak langsung dari sumbernya.
Sarana islamisasi Indonesia memiliki berbagai macam cara. Diantaranya melalui sarana perdagangan, sarana perkawinan atau amalgamasi, sarana kebudayaan (kesenian), sarana politik kekuasaan, dan sarana pendidikan dan mistik. Dari sini sudah terlihat bahwa antara islam dan budaya yang ada di Indonesia memiliki integrasi yang kuat. Karena masuknya islam di Indonesia melalui kebudayaan yang akhirnya bisa diterima oleh masyarakat luas. Bahkan kombinasi antara dua entitas budaya yang berbeda dari unsur kebudayaan Hindhu-Budha yang masuk sebelum Islam dan kebudayaan pada era kolonial , menghasilkan keragaman budaya yang sangat kaya.
Salah satu kelebihan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia adalah kemampuannya untuk bertahan dalam menerima arus budaya baik budaya materiil maupun immaterial. Sejak periode pra sejarah kemampuan ini terlihat jelas dari berbagai ragam corak budaya asing yang diadopsi tanpa harus mengorbankan khazanah budaya yang dimilikinya. Ketika bangsa Indonesia memeluk agama Islam dan mengembangkan Islam di masyarakat sekitarnya, kemampuan ini dipergunakan juga sebagai sarana islamisasi. Budaya lokal yang selama ini telah menjadi trade mark masyarakat dikonservasi/ dilestarikan sedemikian rupa sehingga masyarakat yang masuk Islam tidak merasa terbebani dengan beban-beban psikologis. Mereka merasa masih dalam situasi budaya lama yang menjadi bagian hidupnya selama ini.
Di antara bukti kemampua mereka dalam mengkonservasi/ melestarikan budaya setempat adalah upaya pelestarian kebudayaan/kesenian yang sekaligus digunakan sebagai sarana proses islamisasi di Nusantara. Kesenian-kesenian tersebut melalui :
Ø  Seni bangunan dan dalam hal ini contoh bangunan masjid kuno yang masih dilestarikan dan dijadikan acuan tata letaknya pada pembangunan masjid zaman sekarang
Ø  Seni ukir (ragam hias) yang dipergunakan sebagai sarana islamisasi periode awal adalah berupa seni ukir yang bermotif berbunga-bunga. Sebagaimana diketahui bahwa islam melarang pembuatan patung secara natural, baik berupa binatang apalagi manusia. Oleh sebab itu kemampuan membuat seni ukir diteruskan dan dialihkan untuk memahat atau mengukir gambar-gambar bunga, tulisan arab kaligrafi yang mengutip dari al-qur’an maupun hadist.
Ø  Seni sastra baik lisan maupun tulis. Dewasa ini seiring dengan berkembangnya studi akademik, maka sastra lisan sudah banyak yang dikodifikasi menjadi sastra tulis yang kemudian banyak disimpan di berbagai tempat, mulai dari museum, koleksi pribadi, maupun perpustakaan-perpustakaan.
Para penutur /pencerita tutur jawa mengaitkan keberadaan kerajaan Hindhu terakhir di Jawa yakni Majapahit dengan munculnya kerajaan baru, Demak yang berintikan agama Islam. Dengan runtuhnya Majapahit yang Hindhu dan digantikan oleh Demak yang Islam bukan berarti merupakan akhir segala-galanya bagi orang Jawa, sebab islam justru meneruskan dan melestarikan budaya lama tersebut. Istilah ini yang kemudian disebut dengan “Mengkonservasi Kebudayaan Majapahit” oleh Habib Mustopo. Seperti pemahaman pada kata “Kalimasada” yang berasal dari kata “Kalimahusada”. Kalima berarti lima husada berarti obat. Dan ini sebagaimana yang secara umum didendangkan sebagai pujian enjelang sholat rawatib. Lima obat tersebut adalah membaca al-qur’an dengan memahami artinya, mengerjakan sholat malam, selalu bersahabat dengan orang-orang sholeh, memperbanyak dzikir di waktu malam hari, tidak boleh terlalu kenyang. Dalam kalimatnya di bahasa jawa adalah:
“Tombo ati iku lima warnane. Moco qur’an angen-angen sak maknane, kaping pindo sholat wengi lakono, kaping telu wong kang sholeh kumpulono, kaping papat dzikir wengi ingkang suwe, kaping limo kudu weteng ingkang luwe”

Sebagai generasi penerus bangsa, kita harus tetap menghargai keanekaragaman budaya yang sudah ditinggalkan oleh nenek moyang kita. Dan kita harus memiliki sifat menghargai dan menerima budaya dari golongan lain yang berbeda. Sebagai seorang muslim panutan yang bisa kita lihat adalah Nabi Muhammad SAW yang mampu menghargai dan menghormati golongan yang berbeda. Bahkan semasa hidupnya, Nabi tetap menghormati orang-orang kafir yang selalu mendzolimiNYA. “Islam itu sesungguhnya lebih dari satu sistem agama saja. Namun Islam adalah satu kebudayaan yang lengkap” Ungkap        H.A Ghibab dalam bukunya yang terkenal Wither Islam.
Ajaran islam menganjurkan umatnya untuk untuk melakukan segala upaya demi kebaikan dan kesejahteraan umat manusia, termasuk dalam pengembangan kebudayaan dan sikap saling menghormati antar golongan yang berbeda. Upaya tersebut juga telah menghasilkan suatu prestasi terbaru yang dikenal dengan sebutan “Peradaban Islam” yang dalam sejarahnya telah memberikan andil yang cukup besar bagi kemajuan peradaban dunia.

Written By: Oktaviani Putri Dita
Mahasiswa Manajemen Dakwah UIN Sunan Ampel Surabaya

Sarjana Manajemen Dakwah

22 Februari 2019                 Sudah satu tahun lalu berlalu, namun keinginan untuk celebrating moment lewat tulisan baru tereali...