Minggu, 09 September 2018

KKN 01 Kedungjati Uin Sunan Ampel Surabaya





Berdasarkan tri dharma perguruan tinggi, mahasiswa perlu melakukan pembelajaran, penelitian, dan pengabdian. Kewajiban belajar sudah saya tempuh di bangku kuliah selama kurang lebih tiga tahun lamanya. Penelitian juga telah saya lakukan untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah. Di tahap akhir menuju gelar strata satu, saya dan teman-teman dituntut untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Kota gadis menjadi tujuan tempat kami mengabdi selama satu bulan. Madiun masih indah dengan hamparan pemandangan sawahnya yang hijau, meski ada beberapa sawah yang harus ditebas karena kebutuhan infrastruktur jalan. Madiun juga masih eksis menjadi salah satu pemasok padi terbesar di Jawa Timur .
Kami yang berasal dari prodi yang berbeda dipertemukan dalam satu kelompok yang sama, yaitu KKN 01. Selasa, 17 Juli 2018 pengalaman hidup kami yang baru dimulai. Kami mendapatkan tempat KKN di Desa Kedungjati, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun. Kami tiba di Madiun pada siang hari sekitar pukul 11.00 dengan persewaan elf dari Surabaya. Sempat ada permasalahan ketika kami tiba, karena tempat yang awalnya hendak kami jadikan basecamp ternyata tidak bisa menampung karena ibunya yang sedang sakit.
Syukur alhamdulillah di zaman modern seperti sekarang ini masih ada orang yang baik hati, Mbah Yatiyem mengizinkan rumahnya untuk dijadikan tempat tinggal kami selama satu bulan ke depan. Meskipun rumah yang kami tempati sederhana, setidaknya saya pribadi bersyukur karena masih bisa berteduh disana. Rumah warga di Desa Kedungjati rata-rata masih klasik. Bentuk ruang tamu masih identik luas dan memiliki tiga pintu utama. Namun ada beberapa rumah yang sudah memakai arsitektur modern, tetapi itu hanya sebagian kecil.
            Minggu pertama di tempat KKN, saya dan teman-teman kelompok 01 masih berusaha membaur dengan masyarakat sekitar. Kedatangan kami disambut ramah oleh masyarakat disana. Bahkan di hari pertama, kami sudah mulai mengajar les anak-anak SD. Bagus, Yusuf, dan Ama adalah generasi masyarakat Desa Kedungjati yang pertama kali saya kenal saat itu. Saya sempat bingung harus memberikan materi apa kepada mereka, karena kebetulan ssaat itu pembelajaran di sekolah masih belum aktif. Saya tidak mungkin memberikan ilmu terkait materi perkuliahan. Karena belum waktunya mereka mendapatkan semua itu. Akhirnya, saya memberikan materi tentang Matematika dan Bahasa Inggirs. Karena mneurut saya, dua pelajaran itu merupakan basic awal untuk perkembangan pendidikan mereka.
Di minggu pertama, kami juga melakukan proses pembauran dan pengenalan aset desa. Kamu terbagi menjadi beberapa tim. Ada tim yang mengunjungi ke pengusaha, institusi pendidikan, masyarakat, dan instansi pemerintahan. Kebetulan saya berada di tim institusi pemerintahan. Saya dan Rahma saat itu berkeliling mengunjungi ketua RT yang ada di Desa Kedungjati sebagai bentuk permisi kami secara khusus kepada masyarakat sekitar. Desa Kedungjati sendiri memiliki 20 RT. Dengan begitu banyak jumlah RT yang ada, kami membagi kunjungan silaturrahmi menjadi dua tim dan kebetulan tim saya dan Rahma mendapat bagian RT 11-20.
Dari silaturrahmi ke beberapa RT tersebut, saya merasa menemukan pengalaman baru. Memang pepatah benar, bahwa guru paling hebat adalah pengalaman. Beberapa wawasan dan wejangan diberikan oleh Pak RT dan Bu RT, karena mereka yang lebih banyak menelan manis pahitnya kehidupan. Kami juga didoakan semoga kelak menjadi orang yang sukses dengan memiliki pekerjaan yang mapan, karena saat ini dunia lapangan kerja sangat sulit apalagi jika kita tidak memiliki networking yang luas. Tidak hanya wejangan yang kami dapatkan, namun ada juga Pak RT dan Bu RT yang peduli terhadap kebutuhan pokok kita sehari-hari. Mereka menawarkan beras hasil panen mereka kepada kami dengan harga yang murah. Semoga semua kebaikan mereka dibalas oleh Allah  SWT suatu saat nanti. Aamiin.
Dari hasil pengamatan saya, sebagian besar mata pencaharian warga Desa Kedungjati adalah petani. Namun ada beberapa pengusaha yang sukses dengan produk mereka masing-masing, seperti pengusaha rengginang, golang galing, tempe, ternak, dan batu bata. Usaha yang paling saya soroti kala itu adalah usaha rengginang. Karena berasal dari prodi manajemen dakwah, setidaknya saya memiliki bekal scientist tentang keilmuan manajemen. Usaha rengginang sudah terkenal di kalangan masyarakat sekitar, bahkan pernah diliput oleh salah satu stasiun TV swasta. Sayangnya, usaha tersebut memiliki minus dalam segi brand. Jika ditinjau dari segi pemasaran produk, brand merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pembelian konsumen. Jika brand tersebut sudah dikenal masyarakat luas, maka produk yang ditawarkan akan semakin laku terjual. Namun pemilik usaha belum memiliki branding terhadap produknya. Akibatnya, banyak orang yang melakukan plagiasi terhadap produk rengginang buatannya. Sebenarnya kami sekelompok berinisiatif untuk membantu branding produk beliau, namun beliau merasa sudah cukup dengan pemasarannya yang sudah meluas di kalangan masyarakat. Alhasil kita juga tidak bisa membantu lebih dalam lagi.
            Dari sisi agamis, saya terkesan dengan semangat ibu-ibu di Desa Kedungjati. Setiap ba’da maghrib, mereka berbondong-bondong datang ke lembaga mushola Nurul Hayat untuk mengaji bersama. Di usia mereka yang terbilang senja, mereka masih semangat untuk mengaji dan menuntut ilmu agama bersama. Pendiri jam’iyah ibu-ibu disitu adalah Bu Siti. Beliau bertindak sebagai agen of change masyarakat. Bu Siti sebenarnya adalah warga pendatang baru. Di tahun 2003, Bu Siti memulai membuka majlis belajar membaca al-qur’an yang diminati oleh anak-anak dan ibu-ibu.
Saya dan teman-teman sempat ragu, karena niat kami yang awalnya sowan kesana justru dimintai tolong untuk membantu mengajar. Mindset saya kala itu adalah semakin usia seseorang bertambah, maka orang tersebut akan kembali seperti anak kecil. Saya ragu jika tidak bisa sabar dan ikhlas dalam menghadapi sikap ibu-ibu disana. Namun lama-kelamaan mindset itu tergantikan, kami sudah terbiasa membaur dengan ibu-ibu disana dan mereka sangat mengerti kondisi kami yang juga masih sama-sama belajar. Bahkan di akhir pertemuan, mereka merasa sedih karena harus berpisah dengan kami. Saya yang saat itu mewakili berpamitan tidak kuasa menahan air mata yang tiba-tiba keluar dengan sendirinya. Dalam hati saya masih ingin tetap tinggal disana karena suasana agamanya yang masih kental. Tapi keadaan memaksa kita untuk kembali pulang dan melanjutkan studi yang belum usai. Saya berharap majlis ini bisa istiqomah dan bisa menjadi jariyah bagi yang menempati, baik di dunia maupun di akhirat.
            Selain bertemu dengan Bu Siti yang kami nilai sebagai potensi aset yang besar di Desa Kedungjati, kami juga bertemu dengan Pak Andik. Pertemuan kami diawali ketika saya dan Rahma berkunjung ke ketua RT 13. Kami bertanya tentang karang taruna dan sinoman yang ada di RT tersebut, namun Bu RT justru memanggil Pak Andik karena dinilai lebih mengetahui banyak terkait infonya. Pak Andik yang hendak pergi menonton ke Suncity menyempatkan menemui kami sebentar di ruang tamu. Kami mulai berbicara banyak hal mulai dari hal sepela sampai akhirnya terjalin hubungan silaturrahmi yang erat antara mahasiswa KKN dengan sinoman yang diketuai oleh Pak Andik. Silaturrahmi tersebut terjalin sampai peringatan HUT RI KE-73 di RT 11,12, dan 13. Pak Andik dan masyarakat sekitar memberikan kepercayaan kepada mahasiswa KKN untuk turut andil membantu meramaikan, mulai dari menjadi panitia, juri, dan pengisi acara puncak.
Minggu kedua, saya mendapatkan kesempatan untuk menghadiri acara Hari Koperasi di Alun-Alun Mejayan. Bu Yatmi dan anaknya mengajak saya dan Ainun untuk menghadiri acara tersebut. Menurut hasil yang saya tangkap dari penjelasan Bupati Madiun, koperasi di Madiun ini berjumlah sekitar 700 koperasi, namun yang bisa dikatakan aktif hanya separuh. Sedangkan UMKM yang dimiliki masyarakat Madiun sebanyak 50.000-an. Potensi seperti inilah yang akan membantu meningkatkan finansial masyarakat Madiun. Bupati Madiun juga berharap agar semua UMKM dan koperasi ini berjalan bersama dengan baik. Jika setiap UMKM kecil bisa menarik dua karyawan saja, maka bisa dipastikan angka pengangguran akan semakin kecil.  
           Di pertengahan bulan, kelompok kami akhirnya menemukan aset terbesar yang dimiliki oleh Desa Kedungjati, yaitu TPA. Dari aset tersebut, kami berinisiatif akan mengembangkannya menjadi lebih baik lagi. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi kenapa kami memilih impian tersebut. Pertama, impian tersebut  dinilai menjadi impian paling mudah untuk dicapai dalam kurun waktu sebulan dibandingkan impian-impian yang lain. Kedua, manajemen di TPA sendiri dinilai kurang maksimal.
Jika ditinjau dari segi ilmu manajemen, sumber daya pengajar di TPA sangat minim. Kapasitas perbandingan pengajar dan murid antara 3:50 tentu tidak akan menghasilkan controlling yang maksimal. Ditambah lagi dengan sikap anak-anak disana yang cukup nakal. Sistem pengajaran dilakukan dengan simaan per anak. Jika anak tersebut sudah selesai membaca, maka dia akan dibiarkan dan akhirnya menimbulkan keramaian yang mengganggu temannya yang lain. Kami satu tim sepakat untuk berusaha menjadi fasilitator penggerak kesadaran masyarakat akan pentingnya perhatian terhadap TPA. Dari TPA, anak akan mendapatkan pendidikan tentang akhirat. Mereka yang nantinya akan menjadi salah satu jariyah orang tua ketika sudah meninggal. Alhasil, kami berusaha mencari sumber daya pengajar yang diambil dari remaja masyarakat Desa Kedungjati untuk membantu mengajar di TPA. Kami juga membantu membuatkan modul tajwid yang semoga bermanfaat untuk basic awal pembeajaran a-qur’an yang baik dan benar.
            Minggu ketiga, ahamdulillah kita berhasil melaksanakan FGD yang kita fokuskan ke pembahasan TPA. Antusias masyarakat juga sangat baik dalam menyambut inisiatif pengembangan TPA dari kami. Setidaknya hal tersebut menjadi suntikan semangat bagi tim kami untuk menjalankan program ke depan agar berbuah maksimal.
            Di minggu keempat, jadwal kami cukup padat. Kami dihadapkan dengan beberapa agenda kegiatan terkait peringatan HUT RI KE-73. Kebetulan peringatan HUT RI Desa Kedungjati tahun ini tidak berpusat di satu titik, melainkan di tujuh titik antar sinoman. Sebagai mahasiswa KKN, kami diminta bantuan untuk ikut andil menjadi panitia. Karena keterbatasan sumber daya manusia, kami hanya mendatangi beberapa titik saja. Titik perayaan yang paling kita fokuskan adalah RT yang terdekat dengan basecamp dan RT Pak Andik, karena kami ingin memberikan sumbangsi atas kebaikan yang sudah mereka berikan selama ini. Sementara di titik yang lain, kami berperan sebagai tamu hadir.
            Di minggu terakhir sebelum kami berpamitan pulang, alhamdulillah program kami sedikit menemui titik temu hasil. Ada beberapa remaja yang sudah turun ke TPA untuk belajar menjadi tenaga pengajar disana.  Di TPA 1, ada remaja masjid yang sempat berkunjung untuk turun lapangan dan di TPA 2 ada anak genpres yang juga mencoba menjadi tenaga pengajar.. Saat pertama anak genpres ke TPA 2, realita di lapangan kurang menyenangkan karena hari itu beriringan dengan acara lomba. Alhasil banyak murid TPA yang tidak hadir mengaji. Namun di pertemuan kedua tepatnya sehari sebelum kami pulang, ada anak genpres yang rumahnya di Desa Jerukgulung rela datang ke TPA untuk belajar menjadi tenaga pengajar. Saya sangat kagum dengan semangat jiwa sosialnya yang tinggi dengan pakaian seragam sekolah yang masih dikenakan dan di sisi kanan bajunya bertuliskan kelas XII SMA. Saya berhusnudzon bahwa sepulang sekolah dia langsung rela datang ke TPA. Masa-masa yang seharusnya disibukkan dengan persiapan ujian nasional masih dia isi dengan kebaikan agar bermanfaat bagi orang lain. Semoga dengan menjadi tenaga pengajar di TPA, dia mendapatkan keberkahan dalam urusan pendidkan, karir, dan masa depannya.
            Di paragraf terakhir, mindset saya tentang KKN berubah 180 derajat. Terlepas dari serangkaian program secara formal justru ada pelajaran berharga tentang memaknai kehidupan. Kami satu tim yang dulu tidak saling mengenal satu sama lain dipaksa harus hidup bersama dengan durasi yang cukup lama. Kami belajar bagaimana menghargai dan bertoleransi terhadap sesama. Kami belajar tentang arti perbedaan, keberagaman, dan peduli terhadap orang lain. Semua pengalaman tersebut secara tidak sadar akan kami gunakan sebagai bekal untuk terjun ke masyarakat suatu saat ini. Terimakasih keluarga besar KKN 01 Kedungjati, kalian luar biasa.
Untuk Windi, Si kordes yang pemikirannya liar yang kadang kita sendiri sering salah faham mengartikan. Ku tunggu nama kamu di surat suara pemilihan presiden.
Untuk Mas Salman, Koki andalan kkn 01 yang semoga terkabulkan buka warung makannya biar kita gak susah cari tempat untuk kumpul haha
Untuk Hilman, Semoga imajinasinya lebih terkontrol dan cuman mau ngingetin jangan lupa bayarin kita  richeese atau kita kudeta bareng"
Untuk Mas Zaka, Bapak terbaik selama KKN dan ku doaian segera dipertemukan dengan jodohnya (skripsinya dijaga mas jan sampe dihapus anak" lagi wkwk)
Untuk Adam, Anak kesayangan pak andik penggagas meme diem-diem bae asal jangan jadi orang baru ya
Untuk Bunda Rita, Bundaku unch unch yang suaranya cetar membahana
Untuk Pipin, Orang cina dengan andalan pose foto dua jari but baiq hati dan tidak sombong
Untuk Puspita, Designer kece badai kkn 01yang suka ngasih masakan buat perbaikan gizi
Untuk Qurro, Temen tidur samping aku yang basir but udah kembali normal pasca kkn jadi pendiem
Untuk Risda, Temen tidur samping aku juga yang nylentik dengan ketawa gak jelasnya but habis ini mau jadi bini orang ciyee
Untuk Rahma, Adek kecil aromanisku utuk utuk serius hampa kalau sehari gak jailin kamutuh
Untuk Nam, Moga cepet endut beneran biar pakaiannya gak bohongin orang
Untuk Ainun, Penggagas meme akotoh gak bisa diginiin lur (fix habis kkn makin alay)
Untuk Ais, unyilku sarangheyo
Untuk Ayu, kurang" in lebaynya sama makannya juga kalau bisa wkkw
Untuk Devi, wanita sholihah dan idaman kkn makasih dah sering nganter ke kamar mandi malam"
Untuk Gita, semoga kerjanya makin lancar
Serpihan Foto KKN









Sarjana Manajemen Dakwah

22 Februari 2019                 Sudah satu tahun lalu berlalu, namun keinginan untuk celebrating moment lewat tulisan baru tereali...