Senin, 18 Desember 2017

BUDAYA DAERAH MOJOKERTO


Kebudayaan adalah keseluruhan kehidupan manusia yang didapatkan dengan belajar atau diwariskan. Agama Islam merupakan ajaran dari Tuhan. Islam bukan hanya sekedar agama, tetapi Islam mencakup ajaran yang digunakan untuk membimbing kehidupan manusia. Agama dan kebudayaan memiliki hubungan yang spesifik. Islam bisa masuk ke dalam kehidupan masyarakat melalui budaya. Kebudayaan berguna untuk menginterpretasi dan memahami agama. Jika agama sudah difahami oleh manusia, maka agama bisa diyakini dan diamalkan.
            Setiap daerah memiliki budaya dan adat istiadat masing-masing. Adat istiadat adalah perilaku budaya manusia dan aturan yang telah ditetapkan dan diterapkan oleh manusia. Adat istiadat bersifat ketat dan mengikat, karena adat istiadat telah dipatuhi dan dilaksanakan masyarakat sejak lama. Adat istiadat biasanya digunakan sebagai hukum adat.
            Budaya Islam berkembang dengan cara yang berbeda. Perkembangan budaya Islam dipengaruhi oleh tempat yang didudukinya. Perbedaan tersebut dikarenakan pencampuran agama dan budaya setempat yang berbeda. Akhirnya, setiap wilayah memiliki ciri khas sendiri dalam menjalankan nilai keislaman. Budaya yang diakomodir manusia tidak boleh menyimpang dari syariat ajaran Islam.
            Surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan, bahwa Allah menciptakan manusia dari berbagai suku bangsa. Hal tersebut bertujuan agar manusia saling mengenal satu sama lain. Perkenalan bisa menjadikan hubungan manusia semakin erat. Firman Allah tersebut diinterpretasikan menjadi lokus budaya Islam. Pengertian lokus budaya Islam adalah tempat untuk mengakomodir kebudayaan yang mengandung pesan dari al-qur’an dan hadis. Lokus budaya Islam tidak memecah Islam, tetapi lokus budaya Islam mempererat hubungan Islam di masing-masing wilayah. Perbedaan kebudayaan yang ada di setiap wilayah merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi prinsip Bhineka Tunggal Ika, yang artinya berbeda-beda tapi tetap satu juga.
            Pada tulisan ini, penulis akan memfokuskan tulisannya pada lokus budaya Islam yang ada di Mojokerto. Penulis akan menjelaskan beberapa budaya yang ada di Kota Mojokerto, seperti budaya tempat, budaya waktu, adat istiadat, dan tempat bersejarah yang ada di Kota Mojokerto.
Mojokerto merupakan salah satu kabupaten yang ada di provinsi Jawa Timur. Mojokerto terkenal dengan sebutan bekas Kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar pada masa dahulu. Mojokerto memiliki banyak warisan budaya, seperti wisata sejarah, kebudayaan seni, dan makanan khas.
            Mojokerto memiliki tradisi budaya setiap tanggal satu Suro. Tradisi tersebut dikenal dengan sebutan tradisi Grebek Suro Majapahit. Tradisi ini dipelopori oleh Yayayasan Among Tani. Beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan saat tradisi Grebek Suro Majapahit adalah ziarah ke makam leluhur, pentas kesenian dan makanan rakyat, arak-arakan dengan kostum era kejayaan Majapahit, dan ditutup dengan pagelaran wayang kulit. Tradisi Grebek Suro Majapahit bertujuan untuk meminta keselamatan dan kesejahteraan bagi bumi nusantara.
            Selain tradisi Grebek Suro Majapahit, Mojokerto juga memiliki tradisi Getah Getih Majapahit. Getah Getih Majapahit dilaksanakan setiap tanggal kelahiran Kerajaan Majapahit. Tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 atau tanggal 10 November 1293 merupakan tanggal penobatan Raden Wijaya sebagai raja Saka. Ia dinobatkan dengan nama resmi Kertarajasa Jayawardhana. Rangkaian tradisi Getah Getih Majapahit meliputi arak-arakan memakai pakaian kerajaan dan membawa bendera merah putih yang panjang. Tradisi ini ditutup dengan proses kesenian untuk mengenang Kerajaan Majapahit. Rute Getah Getih Majapahit berakhir di Candi Brahu dan puncaknya dilakukan pada malam hari. Kita bisa melihat dokumentasi singkat proses Getah Getih Majapahit di intagram asli Mojokerto.
            Mojokerto memiliki budaya atribut berupa batik. Batik merupakan sektor usaha yang banyak ditemukan di daerah Trowulan. Kita bisa menjumpai pengrajin batik di Desa Bejijong, Trowulan, Mojokerto. Batik Majapahit mengangkat peninggalan kerajaan Majapahit. Ciri khas motifnya berupa ukiran gambar museum, candi, tanaman, dan bunga yang pernah ada di masa Kerajaan Majapahit. Batik yang ada di setiap daerah memiliki khas sendiri, sedangkan batik di Mojokerto menonjolkan segi motifnya.
            Makanan khas Mojokerto adalah onde-onde. Keberadaan onde-onde sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Karena makanan ini sangat populer, Mojokerto mendapat julukan sebagai kota onde-onde. Onde-onde terbuat dari tepung terigu atau tepung ketan. Setelah itu, onde-onde bisa direbus atau digoreng dan permukaannya ditaburi wijen. Onde-onde memiliki berbagai varian rasa, namun varian yang terkenal di Mojokerto adalah onde-onde isi kacang hjau. Kita bisa membeli onde-onde di pasar tradisional atau pedagang kaki lima.
Beberapa akhir bulan kemarin, ada beberapa event penting di Mojokerto. Pada tanggal 24 September, ada tradisi bazar jajanan tradisional di Wisata Waduk Tanjungan. Tradisi ini bertujuan untuk melestarikan makanan tradisional dan menggali kreatifitas produk unggulan masyarakat sekitar. Pada tangal 30 September, ada pesta rakyat dan pawai yang berada di Lapangan Surodinawan. Di dalam pesta rakyat tersebut, pemerintah setempat mengadakan pemecahan rekor muri sejumlah 20 ribu onde-onde.
            Mojokerto memiliki berbagai macam obyek tempat wisata yang bisa dikunjungi masyarakat umum. Jenis tempat wisata tersebut bisa dijadikan pilihan berlibur. Mojokerto memiliki tempat wisata alam dan wisata tempat sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit. Berbagai tempat wisata yang ada di Mojokerto tidak hanya diminati oleh masyarakat sekitar atau wisatawan domestik saja, tetapi wisatawan mencanegara juga tertarik dengan obyek wisata sejarah yang ada di Mojokerto.
Beberapa obyek wisata alam yang ada di Mojokerto adalah Air Terjun Coban Canggu, Pemandian Ubalan, Air Terjun Dlundung, dll. Adapun obyek wisata peninggalan Kerajaan Majapahit yang ada di Mojokerto adalah Balai Pelestarian Peninggalan Mojokerto, Situs Kedaton, Candi Bajang Ratu, Candi Brahu, Candi Tikus, Candi Wringin Lawang, Kolam Segaran, Mahavihara Majapahit atau Patung Budha Tidur, Pendopo Agung Trowulan, Museum Trowulan, dan Candi Jalatunda.
Selain memiliki tempat wisata alam dan wisata sejarah, Mojokerto juga memiliki tempat hangout yang sering dikunjungi masyarakat sekitar. Rolak Songo merupakan obyek wisata buatan yang terletak di Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Rolak Songo merupakan bangunan berupa pintu air pada Sungai Brantas yang dibuat sejak zaman Belanda. Selain kegunaan Rolak Songo sebagai pintu air, Rolak Songo juga digunakan sebagai jembatan penghubung antara Mojokerto dan Sidoarjo untuk menyeberangi Sungai Brantas. Rolak Songo sering dijadikan tempat untuk menikmati senja dan menikmati kuliner di sekitar.
Mojokerto juga memiliki obyek wisata religi berupa Makam Troloyo. Makam Troloyo menyimpan banyak sejarah. Sejarah tersebut masih terkenang di hati masyarakat sampai saat ini. Makam Troloyo terletak di daerah Sentonorejo, Kecamatan Trowulan. Syeikh Djumadil Qubro adalah salah satu tokoh yang dimakamkan disana. Beliau merupakan seorang tokoh yang sering disebutkan dalam berbagai cerita rakyat. Beliau merupakan pelopor penyebaran Islam di Jawa dan perintis pertama penyebaran agama Islam di Jawa. Beliau adalah wali tertua di tanah Jawa sebelum Wali Songo. Beliau adalah seorang da’i dari negara Persia yang diutus untuk menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.
Menurut keyakinan masyarakat sekitar, Syeikh Djumadil Qubro dibantu oleh rekannya yang bernama Syeikh Subakir dalam menyebarkan Islam. Syeikh Djumadil Qubra mempunyai tiga orang putra. Putra pertamanya adalah Ali Barakat Jainul Alam dan memiliki cucu bernama Malik Ibrahim (Gresik). Putra yang kedua adalah Ali Nurul Alam dan memiliki cucu bernama Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Putra terakhir adalah Ibrahim Asmaraqandi. Dalam dakwahnya ke Jawa, putra bungsunya ikut menyertai Syeikh Djumadil Qubro, yaitu Ibrahim Asmaraqandi. Ibrahim Asmaraqandi memberanikan diri mengabdi pada raja Kuntoro Binatoro Mojopohit dan dikawinkan dengan putri Condro Dewi Condro Muka. Pada akhirnya, beliau pindah ke Champa dan mempunyai putra Maulana Ishak (ayah Sunan Giri) dan R. Rahmat (Sunan Ampel). Syeikh Djumadil Qubro tetap berdakwah di Jawa sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di Troloyo.
Desa Plososari juga memiliki adat istiadat dan kebudayaan sendiri. Desa Plososari merupakan desa kelahiran penulis. Desa Plososari merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Dalam setiap momen pernikahan atau sunatan, warga Desa Plososari selalu melakukan adat istiadat tertentu. Satu hari menjelang acara, pihak keluarga mengeluarkan sedekah berupa makanan untuk masyarakat sekitar. Makanan tersebut dibawa ke kuburan dan ploso. Ploso adalah sejenis pohon besar yang dulu ada di tengah Dusun Kedungklotok. Masyarakat biasanya melakukan tahlil dan ditutup dengan makan bersama di kuburan dan ploso. Hal ini dilakukan untuk menghormati nenek moyang mereka dan mendokan keluarganya yang telah meninggal.


Sarjana Manajemen Dakwah

22 Februari 2019                 Sudah satu tahun lalu berlalu, namun keinginan untuk celebrating moment lewat tulisan baru tereali...