Berdasarkan
tri dharma perguruan tinggi, mahasiswa perlu melakukan pembelajaran,
penelitian, dan pengabdian. Kewajiban belajar sudah saya tempuh di bangku
kuliah selama kurang lebih tiga tahun lamanya. Penelitian juga telah saya lakukan
untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah. Di tahap akhir menuju gelar strata
satu, saya dan teman-teman dituntut untuk melakukan pengabdian kepada
masyarakat dalam bentuk Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Kota
gadis menjadi tujuan tempat kami mengabdi selama satu bulan. Madiun
masih indah dengan hamparan pemandangan sawahnya yang hijau, meski ada beberapa
sawah yang harus ditebas karena kebutuhan
infrastruktur jalan. Madiun juga masih eksis
menjadi salah satu pemasok padi terbesar di Jawa
Timur .
Kami
yang berasal dari prodi yang berbeda dipertemukan dalam satu kelompok yang
sama, yaitu KKN 01. Selasa, 17 Juli 2018 pengalaman hidup kami yang baru dimulai. Kami mendapatkan tempat KKN di Desa
Kedungjati, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun. Kami tiba di Madiun pada
siang hari sekitar pukul 11.00 dengan persewaan elf dari Surabaya. Sempat ada permasalahan ketika kami tiba, karena tempat yang
awalnya hendak kami jadikan basecamp ternyata tidak bisa menampung karena ibunya yang sedang sakit.
Syukur alhamdulillah di zaman modern seperti sekarang ini masih ada orang
yang baik hati, Mbah Yatiyem mengizinkan rumahnya untuk dijadikan tempat
tinggal kami selama satu bulan ke depan. Meskipun rumah yang kami tempati sederhana, setidaknya saya pribadi
bersyukur karena masih bisa berteduh disana. Rumah
warga di Desa Kedungjati rata-rata masih klasik. Bentuk ruang
tamu masih identik luas dan
memiliki tiga pintu utama. Namun ada beberapa rumah yang sudah memakai arsitektur modern, tetapi itu hanya sebagian kecil.
Minggu pertama di
tempat KKN, saya dan teman-teman kelompok 01 masih berusaha membaur dengan
masyarakat sekitar. Kedatangan kami disambut ramah oleh masyarakat disana. Bahkan
di hari pertama, kami sudah mulai mengajar les anak-anak SD. Bagus, Yusuf, dan
Ama adalah generasi masyarakat Desa Kedungjati yang pertama kali saya kenal saat itu. Saya sempat bingung harus memberikan materi apa
kepada mereka, karena kebetulan ssaat itu pembelajaran di sekolah masih belum aktif. Saya tidak mungkin memberikan ilmu terkait
materi perkuliahan. Karena belum waktunya mereka mendapatkan semua itu. Akhirnya,
saya memberikan materi tentang Matematika dan Bahasa Inggirs. Karena mneurut
saya, dua pelajaran itu merupakan basic awal untuk perkembangan pendidikan
mereka.
Di minggu pertama, kami juga melakukan proses pembauran dan pengenalan aset desa. Kamu terbagi menjadi beberapa tim. Ada tim yang
mengunjungi ke pengusaha, institusi pendidikan, masyarakat, dan instansi
pemerintahan. Kebetulan saya berada di tim institusi
pemerintahan. Saya dan
Rahma saat itu berkeliling mengunjungi ketua RT yang ada di Desa Kedungjati
sebagai bentuk permisi kami secara khusus kepada masyarakat sekitar. Desa
Kedungjati sendiri memiliki 20 RT. Dengan begitu banyak jumlah RT yang ada,
kami membagi kunjungan silaturrahmi menjadi dua tim dan kebetulan tim saya dan
Rahma mendapat bagian RT 11-20.
Dari silaturrahmi ke beberapa RT tersebut, saya merasa menemukan
pengalaman baru. Memang pepatah benar, bahwa guru paling hebat adalah pengalaman. Beberapa wawasan dan wejangan diberikan oleh Pak RT dan Bu RT,
karena mereka yang lebih banyak menelan manis
pahitnya kehidupan. Kami juga didoakan semoga kelak menjadi orang yang sukses
dengan memiliki pekerjaan yang mapan, karena saat ini dunia lapangan kerja sangat sulit apalagi jika kita tidak
memiliki networking yang luas. Tidak hanya wejangan yang kami dapatkan, namun ada juga Pak RT dan Bu RT yang peduli terhadap kebutuhan pokok kita sehari-hari. Mereka
menawarkan beras hasil panen mereka kepada kami dengan harga yang murah. Semoga
semua kebaikan mereka dibalas oleh Allah SWT suatu saat nanti. Aamiin.
Dari hasil pengamatan saya, sebagian besar mata pencaharian warga
Desa Kedungjati adalah petani. Namun ada beberapa pengusaha yang sukses dengan
produk mereka masing-masing, seperti pengusaha
rengginang, golang galing, tempe, ternak, dan batu bata. Usaha yang paling saya
soroti kala itu adalah usaha rengginang. Karena berasal dari prodi manajemen
dakwah, setidaknya saya memiliki bekal scientist tentang keilmuan manajemen. Usaha rengginang sudah terkenal di kalangan masyarakat
sekitar, bahkan pernah diliput oleh salah satu stasiun TV swasta. Sayangnya,
usaha tersebut memiliki minus dalam segi brand. Jika ditinjau dari segi pemasaran
produk, brand merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pembelian konsumen.
Jika brand tersebut sudah dikenal masyarakat luas, maka produk yang ditawarkan akan semakin laku terjual. Namun pemilik usaha belum memiliki
branding terhadap produknya. Akibatnya, banyak orang yang melakukan plagiasi
terhadap produk rengginang buatannya. Sebenarnya kami sekelompok berinisiatif
untuk membantu branding produk beliau, namun beliau merasa sudah cukup dengan
pemasarannya yang sudah meluas di kalangan masyarakat. Alhasil kita juga tidak bisa membantu lebih
dalam lagi.
Dari sisi agamis,
saya terkesan dengan semangat ibu-ibu di Desa Kedungjati. Setiap ba’da maghrib,
mereka berbondong-bondong datang ke lembaga mushola Nurul Hayat untuk mengaji
bersama. Di usia mereka yang terbilang senja, mereka masih semangat untuk
mengaji dan menuntut ilmu agama bersama. Pendiri jam’iyah ibu-ibu disitu adalah
Bu Siti. Beliau bertindak sebagai agen of change masyarakat. Bu Siti sebenarnya
adalah warga pendatang baru. Di tahun 2003, Bu Siti memulai
membuka majlis belajar membaca al-qur’an
yang diminati oleh anak-anak dan ibu-ibu.
Saya
dan teman-teman sempat ragu, karena niat kami yang awalnya sowan kesana justru dimintai tolong untuk membantu mengajar. Mindset saya kala itu
adalah semakin usia seseorang bertambah,
maka orang tersebut akan kembali
seperti anak kecil. Saya ragu jika tidak bisa sabar dan ikhlas dalam menghadapi
sikap ibu-ibu disana. Namun lama-kelamaan mindset itu tergantikan, kami sudah
terbiasa membaur dengan ibu-ibu disana dan mereka sangat mengerti kondisi kami
yang juga masih sama-sama belajar. Bahkan di akhir pertemuan, mereka merasa sedih karena
harus berpisah dengan kami. Saya yang saat itu mewakili berpamitan tidak kuasa
menahan air mata yang tiba-tiba keluar dengan sendirinya. Dalam hati saya masih
ingin tetap tinggal disana karena suasana agamanya yang masih kental. Tapi keadaan
memaksa kita untuk kembali pulang dan melanjutkan studi yang belum usai. Saya
berharap majlis ini bisa istiqomah dan bisa menjadi jariyah bagi yang
menempati, baik di dunia maupun di akhirat.
Selain bertemu dengan Bu Siti yang kami nilai sebagai potensi aset
yang besar di Desa Kedungjati, kami juga bertemu dengan Pak Andik. Pertemuan
kami diawali ketika saya dan Rahma berkunjung ke
ketua RT 13. Kami bertanya tentang karang taruna dan sinoman yang ada di RT
tersebut, namun Bu RT justru memanggil Pak Andik karena dinilai lebih
mengetahui banyak terkait infonya. Pak Andik yang hendak pergi menonton ke Suncity
menyempatkan menemui kami sebentar di ruang tamu. Kami
mulai berbicara banyak hal mulai dari hal sepela sampai
akhirnya terjalin hubungan silaturrahmi yang erat antara
mahasiswa KKN dengan sinoman yang diketuai oleh Pak Andik. Silaturrahmi tersebut terjalin sampai peringatan HUT RI KE-73 di RT 11,12, dan
13. Pak Andik dan masyarakat sekitar memberikan kepercayaan kepada mahasiswa
KKN untuk turut andil membantu meramaikan, mulai dari menjadi panitia, juri, dan pengisi acara
puncak.
Minggu kedua, saya mendapatkan kesempatan untuk menghadiri acara Hari
Koperasi di Alun-Alun Mejayan. Bu Yatmi dan anaknya mengajak saya dan Ainun untuk menghadiri acara tersebut. Menurut hasil yang saya tangkap
dari penjelasan Bupati Madiun, koperasi di Madiun ini berjumlah sekitar 700 koperasi, namun yang bisa dikatakan aktif hanya separuh.
Sedangkan UMKM yang dimiliki masyarakat Madiun sebanyak 50.000-an.
Potensi seperti inilah yang akan membantu meningkatkan finansial masyarakat Madiun. Bupati Madiun juga berharap agar semua UMKM dan koperasi ini
berjalan bersama dengan baik. Jika setiap UMKM kecil bisa menarik dua karyawan
saja, maka bisa dipastikan angka pengangguran akan semakin kecil.
Di pertengahan bulan, kelompok kami akhirnya menemukan aset
terbesar yang dimiliki oleh Desa Kedungjati, yaitu TPA. Dari aset tersebut,
kami berinisiatif akan mengembangkannya menjadi lebih
baik lagi. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi kenapa kami memilih impian
tersebut. Pertama, impian tersebut
dinilai menjadi impian paling mudah untuk dicapai dalam kurun waktu
sebulan dibandingkan impian-impian yang lain. Kedua, manajemen di TPA sendiri
dinilai kurang maksimal.
Jika ditinjau dari segi ilmu manajemen, sumber daya pengajar di TPA
sangat minim. Kapasitas perbandingan pengajar dan murid antara 3:50 tentu tidak
akan menghasilkan controlling yang maksimal. Ditambah lagi dengan sikap
anak-anak disana yang cukup nakal. Sistem pengajaran dilakukan dengan simaan
per anak. Jika anak tersebut sudah selesai membaca, maka dia akan dibiarkan dan
akhirnya menimbulkan keramaian yang mengganggu temannya yang lain. Kami satu
tim sepakat untuk berusaha menjadi fasilitator penggerak kesadaran masyarakat
akan pentingnya perhatian terhadap TPA. Dari TPA, anak akan mendapatkan
pendidikan tentang akhirat. Mereka yang nantinya akan menjadi salah satu
jariyah orang tua ketika sudah meninggal. Alhasil, kami berusaha mencari sumber
daya pengajar yang diambil dari remaja masyarakat Desa Kedungjati untuk
membantu mengajar di TPA. Kami juga membantu membuatkan modul tajwid yang
semoga bermanfaat untuk basic awal pembeajaran a-qur’an yang baik dan benar.
Minggu ketiga,
ahamdulillah
kita berhasil melaksanakan
FGD yang
kita fokuskan ke pembahasan TPA. Antusias masyarakat juga sangat baik dalam menyambut inisiatif pengembangan TPA
dari kami. Setidaknya hal tersebut menjadi suntikan
semangat bagi tim kami untuk menjalankan program
ke depan
agar berbuah maksimal.
Di minggu keempat,
jadwal kami cukup padat. Kami dihadapkan dengan beberapa agenda kegiatan
terkait peringatan HUT RI KE-73. Kebetulan peringatan HUT RI Desa Kedungjati tahun
ini tidak berpusat di satu titik, melainkan
di tujuh titik antar sinoman. Sebagai mahasiswa KKN, kami diminta bantuan untuk
ikut andil menjadi panitia. Karena keterbatasan sumber daya manusia, kami hanya
mendatangi beberapa titik saja. Titik perayaan yang paling kita fokuskan adalah RT
yang terdekat
dengan basecamp dan RT Pak Andik, karena kami ingin memberikan sumbangsi atas
kebaikan yang sudah mereka berikan selama ini. Sementara di titik yang lain,
kami berperan sebagai tamu hadir.
Di minggu terakhir sebelum
kami berpamitan
pulang, alhamdulillah program kami sedikit menemui titik temu hasil. Ada beberapa
remaja yang sudah turun ke TPA
untuk belajar menjadi tenaga pengajar disana. Di TPA 1, ada remaja masjid yang sempat
berkunjung untuk turun lapangan dan di TPA 2 ada anak genpres yang juga mencoba menjadi tenaga pengajar.. Saat pertama anak
genpres ke TPA 2, realita di lapangan kurang menyenangkan karena hari itu
beriringan dengan acara lomba. Alhasil banyak murid TPA yang tidak hadir
mengaji. Namun di pertemuan kedua tepatnya sehari sebelum kami pulang, ada anak
genpres yang rumahnya di Desa Jerukgulung rela datang ke TPA untuk belajar
menjadi tenaga pengajar. Saya sangat kagum dengan semangat jiwa sosialnya yang
tinggi dengan pakaian seragam sekolah yang masih dikenakan dan di sisi kanan
bajunya bertuliskan kelas XII SMA. Saya berhusnudzon bahwa sepulang sekolah dia
langsung rela datang ke TPA. Masa-masa yang seharusnya disibukkan dengan persiapan
ujian nasional masih dia isi dengan kebaikan agar bermanfaat bagi orang lain.
Semoga dengan menjadi tenaga pengajar di TPA, dia mendapatkan keberkahan dalam
urusan pendidkan, karir, dan masa depannya.
Di
paragraf terakhir, mindset saya tentang KKN berubah 180 derajat. Terlepas dari
serangkaian program secara formal justru ada pelajaran berharga tentang
memaknai kehidupan. Kami satu tim yang dulu tidak saling mengenal satu sama
lain dipaksa harus hidup bersama dengan durasi yang cukup lama. Kami belajar
bagaimana menghargai dan bertoleransi terhadap sesama. Kami belajar tentang
arti perbedaan, keberagaman, dan peduli terhadap orang lain. Semua pengalaman
tersebut secara tidak sadar akan kami gunakan sebagai bekal untuk terjun ke
masyarakat suatu saat ini. Terimakasih keluarga besar KKN 01 Kedungjati, kalian
luar biasa.
Untuk Windi, Si
kordes yang pemikirannya liar yang kadang kita sendiri sering salah faham
mengartikan. Ku tunggu nama kamu di surat suara pemilihan presiden.
Untuk Mas Salman, Koki andalan kkn 01 yang semoga terkabulkan buka warung makannya
biar kita gak susah cari tempat untuk kumpul haha
Untuk Hilman, Semoga
imajinasinya lebih terkontrol dan cuman mau ngingetin jangan lupa bayarin
kita richeese atau kita kudeta
bareng"
Untuk Mas Zaka, Bapak terbaik selama KKN dan ku doaian
segera dipertemukan dengan jodohnya (skripsinya dijaga mas jan sampe dihapus
anak" lagi wkwk)
Untuk Adam, Anak
kesayangan pak andik penggagas meme diem-diem bae asal jangan jadi orang baru
ya
Untuk Bunda Rita, Bundaku
unch unch yang suaranya cetar membahana
Untuk Pipin, Orang
cina dengan andalan pose foto dua jari but baiq hati dan tidak sombong
Untuk Puspita, Designer
kece badai kkn 01yang suka ngasih masakan buat perbaikan gizi
Untuk Qurro, Temen
tidur samping aku yang basir but udah kembali normal pasca kkn jadi pendiem
Untuk Risda, Temen
tidur samping aku juga yang nylentik dengan ketawa gak jelasnya but habis ini
mau jadi bini orang ciyee
Untuk Rahma, Adek
kecil aromanisku utuk utuk serius hampa kalau sehari gak jailin kamutuh
Untuk Nam, Moga cepet
endut beneran biar pakaiannya gak bohongin orang
Untuk Ainun, Penggagas
meme akotoh gak bisa diginiin lur (fix habis kkn makin alay)
Untuk Ais, unyilku
sarangheyo
Untuk Ayu, kurang" in
lebaynya sama makannya juga kalau bisa wkkw
Untuk Devi, wanita
sholihah dan idaman kkn makasih dah sering nganter ke kamar mandi malam"
Untuk Gita, semoga kerjanya
makin lancar
Serpihan Foto KKN




