Pengetahuan
tentang masalah agama dan budaya sudah tidak asing lagi di kehidupan manusia.
Antara agama dan budaya tidak bisa dipisahkan dan saling berhubungan satu sama
lain. Manusia di dunia tidak terlepas dari agama yang dianut sebagai pedoman
kehidupannya. Dan kental pula dengan kebudayaan yang ada pada daerah tempat
tinggalnya sendiri. Budaya yang diwariskan oleh nenek moyang zaman terdahulu
tentunya akan dijaga dan dilestarikan oleh para generasi penerusnya.
Pengaruh
Islam dalam kebudayaan nusantara telah berlangsung sejak beberapa abad yang
lalu. Banyak pendapat yang mengatakan daerah asal dan pembawa Islam ke
nusantara. Pertama, mereka yang mengatakan bahwa daerah asal Islam dan
pembawanya adalah para dai yang datang langsung dari daerah-daerah Arabia
(Timur Tengah= Sekarang). Kedua, mereka yang mengatakan bahwa Islam adalah para
pedagang dari daerah-daerah India (Gujarat), Persia dan sekitarnya. Ketiga, mereka
yang mengatakan bahwa Islam masuk ke nusantara oleh dai sekaligus pedagang dari
China, Champa dan lain-lain. Jadi, pendapat kedua mengatakan bahwa Islam tidak
langsung dari sumbernya.
Sarana
islamisasi Indonesia memiliki berbagai macam cara. Diantaranya melalui sarana
perdagangan, sarana perkawinan atau amalgamasi, sarana kebudayaan (kesenian),
sarana politik kekuasaan, dan sarana pendidikan dan mistik. Dari sini sudah
terlihat bahwa antara islam dan budaya yang ada di Indonesia memiliki integrasi
yang kuat. Karena masuknya islam di Indonesia melalui kebudayaan yang akhirnya
bisa diterima oleh masyarakat luas. Bahkan kombinasi antara dua entitas budaya
yang berbeda dari unsur kebudayaan Hindhu-Budha yang masuk sebelum Islam dan
kebudayaan pada era kolonial , menghasilkan keragaman budaya yang sangat kaya.
Salah
satu kelebihan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia adalah kemampuannya untuk
bertahan dalam menerima arus budaya baik budaya materiil maupun immaterial.
Sejak periode pra sejarah kemampuan ini terlihat jelas dari berbagai ragam
corak budaya asing yang diadopsi tanpa harus mengorbankan khazanah budaya yang
dimilikinya. Ketika bangsa Indonesia memeluk agama Islam dan mengembangkan
Islam di masyarakat sekitarnya, kemampuan ini dipergunakan juga sebagai sarana
islamisasi. Budaya lokal yang selama ini telah menjadi trade mark masyarakat
dikonservasi/ dilestarikan sedemikian rupa sehingga masyarakat yang masuk Islam
tidak merasa terbebani dengan beban-beban psikologis. Mereka merasa masih dalam
situasi budaya lama yang menjadi bagian hidupnya selama ini.
Di
antara bukti kemampua mereka dalam mengkonservasi/ melestarikan budaya setempat
adalah upaya pelestarian kebudayaan/kesenian yang sekaligus digunakan sebagai
sarana proses islamisasi di Nusantara. Kesenian-kesenian tersebut melalui :
Ø Seni bangunan dan dalam hal ini contoh
bangunan masjid kuno yang masih dilestarikan dan dijadikan acuan tata letaknya
pada pembangunan masjid zaman sekarang
Ø Seni ukir (ragam hias) yang dipergunakan
sebagai sarana islamisasi periode awal adalah berupa seni ukir yang bermotif
berbunga-bunga. Sebagaimana diketahui bahwa islam melarang pembuatan patung
secara natural, baik berupa binatang apalagi manusia. Oleh sebab itu kemampuan
membuat seni ukir diteruskan dan dialihkan untuk memahat atau mengukir
gambar-gambar bunga, tulisan arab kaligrafi yang mengutip dari al-qur’an maupun
hadist.
Ø Seni sastra baik lisan maupun tulis. Dewasa
ini seiring dengan berkembangnya studi akademik, maka sastra lisan sudah banyak
yang dikodifikasi menjadi sastra tulis yang kemudian banyak disimpan di berbagai
tempat, mulai dari museum, koleksi pribadi, maupun perpustakaan-perpustakaan.
Para
penutur /pencerita tutur jawa mengaitkan keberadaan kerajaan Hindhu terakhir di
Jawa yakni Majapahit dengan munculnya kerajaan baru, Demak yang berintikan
agama Islam. Dengan runtuhnya Majapahit yang Hindhu dan digantikan oleh Demak
yang Islam bukan berarti merupakan akhir segala-galanya bagi orang Jawa, sebab
islam justru meneruskan dan melestarikan budaya lama tersebut. Istilah ini yang
kemudian disebut dengan “Mengkonservasi Kebudayaan Majapahit” oleh Habib
Mustopo. Seperti pemahaman pada kata “Kalimasada” yang berasal dari kata
“Kalimahusada”. Kalima berarti lima husada berarti obat. Dan ini sebagaimana
yang secara umum didendangkan sebagai pujian enjelang sholat rawatib. Lima obat
tersebut adalah membaca al-qur’an dengan memahami artinya, mengerjakan sholat
malam, selalu bersahabat dengan orang-orang sholeh, memperbanyak dzikir di
waktu malam hari, tidak boleh terlalu kenyang. Dalam kalimatnya di bahasa jawa
adalah:
“Tombo ati iku lima warnane. Moco qur’an angen-angen
sak maknane, kaping pindo sholat wengi lakono, kaping telu wong kang sholeh
kumpulono, kaping papat dzikir wengi ingkang suwe, kaping limo kudu weteng
ingkang luwe”
Sebagai
generasi penerus bangsa, kita harus tetap menghargai keanekaragaman budaya yang
sudah ditinggalkan oleh nenek moyang kita. Dan kita harus memiliki sifat
menghargai dan menerima budaya dari golongan lain yang berbeda. Sebagai seorang
muslim panutan yang bisa kita lihat adalah Nabi Muhammad SAW yang mampu
menghargai dan menghormati golongan yang berbeda. Bahkan semasa hidupnya, Nabi
tetap menghormati orang-orang kafir yang selalu mendzolimiNYA. “Islam itu
sesungguhnya lebih dari satu sistem agama saja. Namun Islam adalah satu kebudayaan
yang lengkap” Ungkap H.A Ghibab
dalam bukunya yang terkenal Wither Islam.
Ajaran
islam menganjurkan umatnya untuk untuk melakukan segala upaya demi kebaikan dan
kesejahteraan umat manusia, termasuk dalam pengembangan kebudayaan dan sikap
saling menghormati antar golongan yang berbeda. Upaya tersebut juga telah
menghasilkan suatu prestasi terbaru yang dikenal dengan sebutan “Peradaban
Islam” yang dalam sejarahnya telah memberikan andil yang cukup besar bagi
kemajuan peradaban dunia.
Written By: Oktaviani Putri Dita
Mahasiswa Manajemen Dakwah UIN Sunan
Ampel Surabaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar