Jumat, 01 Mei 2020

Sastra Sebagai Upaya Pembentuk Kreativitas Bagi Remaja




            Masa remaja adalah masa transisi ketika individu tumbuh dari masa anak-anak menjadi individu yang memiliki kematangan. Pada masa tersebut, ada dua hal penting yang menyebabkan remaja melakukan pengendalian diri. Dua hal tersebut adalah hal yang bersifat eksternal, yaitu adanya perubahan lingkungan dan hal yang bersifat internal, yaitu karakteristik di dalam remaja yang membuat remaja relatif lebih bergejolak dibandingkan dengan masa perkembangan lainnya. Rice (dalam Gunarsa, 2004).
            Perubahan lingkungan ekternal menyebabkan rentan adanya pengaruh negatif terhadap diri remaja. Pergaulan bebas dan sikap hura-hura sangat mengkhawatirkan tumbuh pada diri remaja. Salah satu tugas perkembangan remaja adalah mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab. Sebagai penerus bangsa, remaja diharapkan mampu memiliki perilaku sosial yang baik di tengah kalangan masyarakat.
Widyatuti dkk (2009) menjelaskan ada beberapa perubahan kejiwaan pada masa remaja, yaitu perubahan emosi dan perkembangan intelegensia. Perubahan emosi menyebabkan remaja cenderung labil terhadap sikap yang dilakukan. Namun mereka akan lebih peka perasaannya terhadap lingkungan sekitar. Perkembangan intelegensia menyebabkan remaja cenderung mengembangkan cara berpikir dan ingin mengetahui hal-hal baru, sehingga muncul perilaku ingin mencoba-coba.
Maslow menyimpulkan, bahwa semua manusia dilahirkan dengan kebutuhan instingtif yang mendorong untuk tumbuh dan berkembang, mengaktualisasi diri, dan mengembangkan potensi sejauh mungkin. Potensi untuk petumbuhan diaktualisasikan atau tidak  tergantung pada kekuatan individual dan sosial yang memajukan atau menghambat. Cara yang bisa dilakukan para remaja untuk mengembangkan potensi adalah dengan menggali semua kreativitas yang ada di dalam dirinya. Kreativitas diperlukan remaja untuk membangun pola fikir yang luas dan maju. Kreativitas bisa dibentuk dengan cara-cara yang sederhana, seperti memulai menanamkan budaya membaca dan menulis.
Pada dasarnya, remaja juga mengalami perkembangan kognitif yang berupa perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Dengan membaca, remaja bisa membuka cakrawala pemikiran dan pengetahuannya secara luas. Mereka bisa mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat. Mereka juga bisa menulis untuk menuangkan semua ide yang ada di dalam fikirannya.
Salah satu cara untuk menghindari pengaruh buruk lingkungan dan membangun kreativitas bagi remaja adalah dengan memperkenalkan dan menumbuhkan rasa cinta terhadap sastra. Karya sastra merupakan wadah seni menampilkan keindahan lewat penggunaan bahasa yang menarik, bervariasi, dan imajinatif (Keraf, 2002. 115). Karya sastra memiliki manfaat yang beragam. Watt berpendapat, bahwa karya sastra memberikan fungsi sebagai pleasing atau kenikmatan hiburan dan instructing atau memberikan ajaran tertentu.
            Sebagai pleasing, sastra bisa digunakan sebagai media untuk menghibur diri. Remaja bisa mengisi waktu luang mereka dengan membaca karya-karya sastra orang lain atau mungkin membuat karya sendiri untuk dibaca orang lain. Sedangkan fungsi sastra sebagai instructing adalah sastra bisa memberikan pendidikan kepada remaja. Seperti novel terkenal Habiburrahman El-Shirazy yang berjudul Ayat-Ayat Cinta 1 & 2, novel tersebut laku terjual dengan peminat terbanyak adalah kaum remaja. Antusias penggemar sastra berhasil membuat novel tersebut berhasil rilis dijadikan film lebar. Cerita tersebut disajikan dengan sederhana namun memiliki nilai dan makna yang sangat luar biasa. Remaja bisa mencontoh keteladanan tokoh yang ada di dalamnya, bahwa sesama manusia kita harus saling menghormati dan tolong menolong meskipun berbeda agama. Pelajaran lain yang bisa diambil dari nobel tersebut adalah tentang kestiaan cinta yang sukses membuat baper para pembacanya.
            Selain itu, sastra juga dapat mempengaruhi pembaca lewat isi dan maknanya. Sastra bisa dijadikan upaya penyampaian perasaan penulis kepada pembaca. Hakikat karya sastra sendiri adalah Dulce etUtile yang berarti indah dan berguna. Remaja identik menyukai keindahan kata-kata. Bagi remaja yang sedang dimabuk asmara, sastra bisa dijadikan media penyampaian perasaan kepada pujaan hatinya. Sejak zaman dahulu bahkan sampai sekarang, puisi yang biasanya menjadi sasaran media ampuh untuk mengungkapkan perasaan. Segala hal yang tidak bisa diucapkan dengan kata bisa tersampaikan lewat sebuah puisi yang sederhana.
Namun demikian, perkembangan sastra terus berubah. Dulu, sastra yang dibuat mungkin berisi tentang cerita perjuangan penjajahan dan semangat pemuda membela negara. Tetapi pada era sekarang, sastra bisa berkembang dengan mengangkat unsur modernisasi. Sastra bisa diwujudkan dalam bentuk lagu-lagu  indah yang bersifat sebagai penghibur. Banyak sekali grup band yang muncul dan berkarir di dunia musik dengan personil anggotanya yang terdiri dari kaum remaja. Hal tersebut merupakan respon positif dari para remaja terhadap perwujudan sastra dalam wajah baru. Dengan demikian, sastra tidak akan hilang ditelan masa seiring perkembangan zaman, namun sastra justru semakin berkembang dengan wajah-wajah barunya.
Masa remaja juga tidak terlepas dari proses pencarian jati. Melalui sastra seperti cerpen atau novel, remaja bisa menjelajahi kehidupan tokoh lain yang ada di dalam alur ceritanya. Cerita yang dinilai bagus dan berkesan akan menjadi suatu hal yang terkenang dan sulit untuk dilupakan. Tokoh dan karakter di dalam ceritanya sering dikaitkan dengan realita kehidupan. Mereka bisa menemukan berbagai karakter di dalam cerita tersebut untuk membantu proses penemuan jati diri. Bahkan mereka bisa mencontoh karakter yang dinilai patut dijadikan teadan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sarjana Manajemen Dakwah

22 Februari 2019                 Sudah satu tahun lalu berlalu, namun keinginan untuk celebrating moment lewat tulisan baru tereali...