Masa remaja
adalah masa transisi ketika individu tumbuh dari masa anak-anak menjadi
individu yang memiliki kematangan. Pada masa tersebut, ada dua hal penting yang
menyebabkan remaja melakukan pengendalian diri. Dua hal tersebut adalah hal
yang bersifat eksternal, yaitu adanya perubahan lingkungan dan hal yang
bersifat internal, yaitu karakteristik di dalam remaja yang membuat remaja
relatif lebih bergejolak dibandingkan dengan masa perkembangan lainnya. Rice
(dalam Gunarsa, 2004).
Perubahan
lingkungan ekternal menyebabkan rentan adanya pengaruh negatif terhadap diri
remaja. Pergaulan bebas dan sikap hura-hura sangat mengkhawatirkan tumbuh pada
diri remaja. Salah satu tugas perkembangan remaja adalah mencapai perilaku sosial
yang bertanggung jawab. Sebagai penerus bangsa,
remaja diharapkan mampu memiliki perilaku sosial yang baik di tengah kalangan
masyarakat.
Widyatuti dkk (2009) menjelaskan ada beberapa perubahan kejiwaan
pada masa remaja, yaitu perubahan emosi dan perkembangan intelegensia. Perubahan
emosi menyebabkan remaja cenderung labil terhadap sikap yang dilakukan. Namun
mereka akan lebih peka perasaannya terhadap lingkungan sekitar. Perkembangan
intelegensia menyebabkan remaja cenderung mengembangkan cara berpikir dan ingin
mengetahui hal-hal baru, sehingga muncul perilaku ingin mencoba-coba.
Maslow menyimpulkan, bahwa semua manusia
dilahirkan dengan kebutuhan instingtif yang mendorong untuk tumbuh dan
berkembang, mengaktualisasi diri, dan mengembangkan potensi sejauh mungkin.
Potensi untuk petumbuhan diaktualisasikan atau tidak tergantung pada kekuatan individual dan
sosial yang memajukan atau menghambat. Cara yang bisa dilakukan para remaja untuk mengembangkan
potensi adalah dengan menggali semua kreativitas yang ada di dalam dirinya. Kreativitas diperlukan remaja untuk
membangun pola fikir yang luas dan maju. Kreativitas bisa dibentuk dengan
cara-cara yang sederhana, seperti memulai menanamkan budaya membaca dan
menulis.
Pada dasarnya, remaja
juga mengalami perkembangan kognitif yang berupa perubahan kemampuan mental
seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Dengan membaca, remaja
bisa membuka cakrawala pemikiran dan pengetahuannya secara luas. Mereka bisa
mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk
melakukan peran sebagai anggota masyarakat. Mereka juga bisa menulis untuk
menuangkan semua ide yang ada di dalam fikirannya.
Salah satu cara untuk menghindari pengaruh buruk lingkungan dan
membangun kreativitas bagi remaja adalah dengan memperkenalkan dan menumbuhkan
rasa cinta terhadap sastra. Karya
sastra merupakan wadah seni menampilkan keindahan lewat penggunaan bahasa yang menarik,
bervariasi, dan imajinatif (Keraf, 2002. 115). Karya sastra memiliki manfaat yang
beragam. Watt berpendapat, bahwa karya sastra memberikan fungsi sebagai
pleasing atau kenikmatan hiburan dan instructing atau memberikan
ajaran tertentu.
Sebagai
pleasing, sastra bisa digunakan sebagai media untuk menghibur diri.
Remaja bisa mengisi waktu luang mereka dengan membaca karya-karya sastra orang
lain atau mungkin membuat karya sendiri untuk dibaca orang lain. Sedangkan
fungsi sastra sebagai instructing adalah sastra bisa memberikan
pendidikan kepada remaja. Seperti novel terkenal Habiburrahman El-Shirazy yang
berjudul Ayat-Ayat Cinta 1 & 2, novel tersebut laku terjual dengan peminat
terbanyak adalah kaum remaja. Antusias penggemar sastra berhasil membuat novel
tersebut berhasil rilis dijadikan film lebar. Cerita tersebut disajikan dengan
sederhana namun memiliki nilai dan makna yang sangat luar biasa. Remaja bisa
mencontoh keteladanan tokoh yang ada di dalamnya, bahwa sesama manusia kita harus
saling menghormati dan tolong menolong meskipun berbeda agama. Pelajaran lain
yang bisa diambil dari nobel tersebut adalah tentang kestiaan cinta yang sukses
membuat baper para pembacanya.
Selain itu,
sastra juga dapat mempengaruhi pembaca lewat isi dan maknanya. Sastra bisa
dijadikan upaya penyampaian perasaan penulis kepada pembaca. Hakikat karya
sastra sendiri adalah Dulce etUtile yang berarti indah dan berguna. Remaja
identik menyukai keindahan kata-kata. Bagi remaja yang sedang dimabuk asmara,
sastra bisa dijadikan media penyampaian perasaan kepada pujaan hatinya. Sejak
zaman dahulu bahkan sampai sekarang, puisi yang biasanya menjadi sasaran media ampuh
untuk mengungkapkan perasaan. Segala hal yang tidak bisa diucapkan dengan kata
bisa tersampaikan lewat sebuah puisi yang sederhana.
Namun demikian, perkembangan sastra terus berubah. Dulu, sastra
yang dibuat mungkin berisi tentang cerita perjuangan penjajahan dan semangat
pemuda membela negara. Tetapi pada era sekarang, sastra bisa berkembang dengan
mengangkat unsur modernisasi. Sastra bisa diwujudkan dalam bentuk lagu-lagu indah yang bersifat sebagai penghibur. Banyak
sekali grup band yang muncul dan berkarir di dunia musik dengan personil
anggotanya yang terdiri dari kaum remaja. Hal tersebut merupakan respon positif
dari para remaja terhadap perwujudan sastra dalam wajah baru. Dengan demikian,
sastra tidak akan hilang ditelan masa seiring perkembangan zaman, namun sastra
justru semakin berkembang dengan wajah-wajah barunya.
Masa remaja juga tidak terlepas dari proses pencarian jati. Melalui
sastra seperti cerpen atau novel, remaja bisa menjelajahi kehidupan tokoh lain
yang ada di dalam alur ceritanya. Cerita yang dinilai bagus dan berkesan akan
menjadi suatu hal yang terkenang dan sulit untuk dilupakan. Tokoh dan karakter di
dalam ceritanya sering dikaitkan dengan realita kehidupan. Mereka bisa
menemukan berbagai karakter di dalam cerita tersebut untuk membantu proses
penemuan jati diri. Bahkan mereka bisa mencontoh karakter yang dinilai patut dijadikan
teadan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar