Pernahkah
kau merasakan trauma berat karena kecelakaan hebat di jalan? Atau mungkin
trauma karena suatu kejadian yang memilukan. Yah perasaan itu pernah saya
alami. Baru saja memasuki bulan pertama masuk kuliah di semester 3, kebahagiaan
masih menyinari wajah-wajah kami. Setelah sekian lama melewati masa liburan
panjang tidak berjumpa dan bercanda ria dengan kawan yang gila, kawan sekaligus
keluarga MD ’15 yang tak kenal waktu untuk selalu memberikan senyuman indah
setiap hari.
Kebahagiaan
itu masih terlintas sekilas di wajah dan berganti dengan trauma besar karena
peristiwa kecelakaan yang menimpaku. Bersama air hujan turun seakan ikut
menyumbang rasa kesedihan akibat sakit luar biasa yang ku rasakan saat itu.
Bermula setelah pulang dari rumah teman karena rasa capek yang begitu terasa
dan terburu mengejar waktu untuk segera sampai rumah karena suasana mendung
mulai menerkam. Sampai pada belokan tajam tepat dengan alas aspal yang dipenuhi
kerikil dan pasir, seperti kejadian sesaat namun menyisakan bekas yang mendalam.
Lajur sepeda berhembus kencang dan ku tak kuasa mengendalikan rem sepeda karena
ban rodanya tergelincir aspal yang licin. Tubuhku berbaring tak berdaya di atas
aspal bersama tetesan darah yang mengalir dari ujung kepala melewati kaca helm
yang ku kenakan. Suara jantung yang kuat sekali bunyinya. Sembari mulut tak
mampu berucap apapun. Namun beruntungnya masih ada seorang laki-laki paruh baya
yang masih memiliki hati nurani bersedia menolong dan membawa tubuh yang tak berdaya
ini ke Puskesamas terdekat.
Tidak
ada kata dan harapan yang terucap selain sebutan dzikir kepada sang pemilik
kehidupan. Berharap ada kesempatan untuk memperbaiki hidup sebelum nyawa ini
dicabut setelah ini. Namun di atas kasur puskesmas tubuh ini masih lemas tak
berdaya menunggu bantuan dari pihak medis. Sungguh kejam dunia medis, ketika
persepsiku dulu mengatakan betapa keren dan gaulnya memakai baju putih berlatar
belakang dunia kesehatan dan tentunya dengan gaji yang besar dan pekerjaannya yang
mulia membantu menyelamatkan nyawa orang lain. Namun pasca kecelakaan itu semua
persepsiku 360 derajat. Dengan kondisi tubuhku yang lemas tak berdaya
membutuhkan pertolongan medis, namun mereka para suster dan asisten medis sama
sekali tidak peduli dan masih disibukkan dengan pekerjaannnya menghitung uang
masuk puskesmas hari itu. Oh tuhan mereka lebih memilih uang daripada
menyelamatkan nyawa seseorang. Saat itu juga aku mengecam bahwa pelayanan medis
tidak sebaik pelayanan pada rumah sakit besar yang dibayar orang-orang berduit.
Lalu apakah rakyat kecil seperti kami tidak berhak mendapat keadilan untuk
nyawa kami sendiri?
Tuhan,
andai aku memiliki kesempatan menjadi seperti mereka yang bergelut di dunia
kesehatan, maka kejadian seperti ini tidak akan pernah ku biarkan. Paradigma
pemikiran mereka akan ku ganti dengan paradigma toleransi yang jauh lebih
bermartabat dan manusiawi. Bahkan mungkin jika aku menjadi pimpinan manajer di
puskesmas tesebut, akan ku berhentikan kerja secara tidak terhormat mereka yang
telah melanggar sumpahnya untuk menyelamatkan nyawa seseorang.
Menunggu
dan menunggu hanya itu yang bisa ku lakukan di atas ranjang puskesmas yang
sempit itu. Sampai pada akhirnya ada seorang perawat perempuan yang menangani
lukaku saat itu. Anehnya dia tidak mengerti apa-apa tentang luka yang aku alami
pasca kecelakaan itu. Dia masih mendiskusikan dengan perawat yang lain untuk
menangani luka di wajah yang darahnya masih mengalir deras. Sampai pada akhirnya
ada 3 perawat yang turun ikut menangani. Mereka mengambil kesimpulan agar aku
dirujuk ke rumah sakit besar untuk mendapat tindakan intensif yang lebih
lanjut. Luka yang kualami lumayan serius karena
mengenai wajah dan akan fatal jika ditangani secara tidak tepat. Betapa
takut perasaanku saat itu saat perawat menyebut kara rumah sakit. Yang
terbayang adalah jarum suntik, ruang operasi dan jahitan luka. Selama ini aku
adalah perempuan yang paling takut dengan jarum suntik dokter. Setiap periksa
ke dokter hanya resep obat yang diminta, bahkan melihat jarum suntik saja
merengek menangis. Namun pada kesempatan kali ini aku harus siap bersahabat
dengan ajrum suntik dan jahitan agar lukaku bisa teratasi dengan tepat.
Aku
dirujuk dibawa ke rumah sakit besar dan mulai mendapat penanganan dari dokter.
Melihat jarum suntiuk siap menyapa tubuhku, mata langsung ku pejam sembari ku
genggam errat tangan ibu yang setia menunggu di sampingku saat itu. Ternyata
jarum suntik tidak seseram yang ku bayangkan selama ini. Seperti digigit semut
sakitnya hanya sekilas lewat setelah itu sudah tidka terasa karena aku memakai
bius. Dan pasca proses jahitan luka, wajahku harus tertutup separuh oleh perban
luka yang lumayan besar dan mengganggu. Mataku bengkak kebiruan dan tidak bisa
terbayang saat itu betapa hancur mukaku pasca kecelakaan tragis itu.
Kecelakaan
itu membuat aktivitas perkuliahanku terganggu. Selama satu minggu aku absen
dari kelas karena masih dalam proses penyembuhan intensif. Bersyukur memiliki
teman layaknya keluarga yang sangat peduli kepada kondisiku. Mereka saling
menanyakan kabarku satu sama lain bahkan ada yang memiliki niat untuk menjenguk
ku dari surabaya- ke mojokerto. Namun aku tidak mengizinkannya karena aku berfikir
lukaku sudah lumayan sembuh dan tidak perlu sejauh itu menjengukku ke rumah.
Hanya dengan doa dan rasa kepedulian teman-teman yang tinggi sudah cukup bagiku
sebagai penghibur kesedihan saat itu. Ternyata masih banyak orang yang
menyayangi dan mengasihiku Tuhan.
Absen
kuliah selama satu minggu membuatku ketinggalan banyak informasi seputar
kampus. Termasuk salah satu diantaranya adalah informasi tentang pendaftaran
beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi bidang akademik. Sudah sejak lama ku
tuis dalam daftar impianku bahwa aku harus bisa mendapat beasiswa untuk mebantu
meringkakan beban orang tua dalam membiayai pendidikanku. Terlebih aku masih
mempunyai seorang adik yang masih kecil dan membutuhkan banyak biaya untuk masa
depannya. Sekuat tenaga aku nekat untuk tetap mendaftar beasiswa itu. Dengan
kondisi yang masih belum fit aku balik ke Surabaya untuk mengurus berkas-berkas
yang harus dilengkapi sebagai persyaratan beasiswa. Dan akhirnya semua selesai
berkat bantuan teman-teman yang saat itu seperjuangan memperebutkan beasiswa
kampus.
Sekitar
dua minggu dari penutupan pendaftaran beasiswa pengumuman itu keluar. Awalnya
aku tidak mengetahui info apapun tentang pengumuman mahasiswa yang lolos dalam
beasiswa itu. Namun salah satu kakak kelasku memasang DP via BBM nya dengan
selembar kertas bukti pengumuman. Tanpa rasa malu aku bertanya dengan mengirim
personal chat mengenai apa isi pengumuman itu, dan betapa mengejutkan ketika
dia memberi ucapan selamat karena ternyata namaku menajdi salah satu mahasiswa yang
lolos beasiswa akademik dan berada di urutan teratas dari keseluruhan yang
lolos di prodiku. Tidak ada kata lain slain ucapan syukur yang begitu besar
kepada Allah yang telah memberi berkah dan kejaibannya pasca kecelakaan itu.
Besok pagi aku langsung menemui pihak dosen yang bersangkutan untuk
menandatangani surat perseujuan kontrak beasiswa. Dan betapa bahagianya kedua
orang tuaku ketika mereka aku kirim kabar bahagia ini. Setidaknya aku bisa
membahagiakan mereka walau tidak seberapa.
Dan
percayalah Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan manusia.
Setiap cobaan pahit yang menimpa kita apabila kita hadapi dengan hati ikhlas
pasti akan berbuah keberkahan dan hikmah yang luar bisa tak terkira di akhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar