Senin, 05 Desember 2016

Sakit Itu Membawa Berkah



Pernahkah kau merasakan trauma berat karena kecelakaan hebat di jalan? Atau mungkin trauma karena suatu kejadian yang memilukan. Yah perasaan itu pernah saya alami. Baru saja memasuki bulan pertama masuk kuliah di semester 3, kebahagiaan masih menyinari wajah-wajah kami. Setelah sekian lama melewati masa liburan panjang tidak berjumpa dan bercanda ria dengan kawan yang gila, kawan sekaligus keluarga MD ’15 yang tak kenal waktu untuk selalu memberikan senyuman indah setiap hari.
Kebahagiaan itu masih terlintas sekilas di wajah dan berganti dengan trauma besar karena peristiwa kecelakaan yang menimpaku. Bersama air hujan turun seakan ikut menyumbang rasa kesedihan akibat sakit luar biasa yang ku rasakan saat itu. Bermula setelah pulang dari rumah teman karena rasa capek yang begitu terasa dan terburu mengejar waktu untuk segera sampai rumah karena suasana mendung mulai menerkam. Sampai pada belokan tajam tepat dengan alas aspal yang dipenuhi kerikil dan pasir, seperti kejadian sesaat namun menyisakan bekas yang mendalam. Lajur sepeda berhembus kencang dan ku tak kuasa mengendalikan rem sepeda karena ban rodanya tergelincir aspal yang licin. Tubuhku berbaring tak berdaya di atas aspal bersama tetesan darah yang mengalir dari ujung kepala melewati kaca helm yang ku kenakan. Suara jantung yang kuat sekali bunyinya. Sembari mulut tak mampu berucap apapun. Namun beruntungnya masih ada seorang laki-laki paruh baya yang masih memiliki hati nurani bersedia menolong dan membawa tubuh yang tak berdaya ini ke Puskesamas terdekat.
Tidak ada kata dan harapan yang terucap selain sebutan dzikir kepada sang pemilik kehidupan. Berharap ada kesempatan untuk memperbaiki hidup sebelum nyawa ini dicabut setelah ini. Namun di atas kasur puskesmas tubuh ini masih lemas tak berdaya menunggu bantuan dari pihak medis. Sungguh kejam dunia medis, ketika persepsiku dulu mengatakan betapa keren dan gaulnya memakai baju putih berlatar belakang dunia kesehatan dan tentunya dengan gaji yang besar dan pekerjaannya yang mulia membantu menyelamatkan nyawa orang lain. Namun pasca kecelakaan itu semua persepsiku 360 derajat. Dengan kondisi tubuhku yang lemas tak berdaya membutuhkan pertolongan medis, namun mereka para suster dan asisten medis sama sekali tidak peduli dan masih disibukkan dengan pekerjaannnya menghitung uang masuk puskesmas hari itu. Oh tuhan mereka lebih memilih uang daripada menyelamatkan nyawa seseorang. Saat itu juga aku mengecam bahwa pelayanan medis tidak sebaik pelayanan pada rumah sakit besar yang dibayar orang-orang berduit. Lalu apakah rakyat kecil seperti kami tidak berhak mendapat keadilan untuk nyawa kami sendiri?
Tuhan, andai aku memiliki kesempatan menjadi seperti mereka yang bergelut di dunia kesehatan, maka kejadian seperti ini tidak akan pernah ku biarkan. Paradigma pemikiran mereka akan ku ganti dengan paradigma toleransi yang jauh lebih bermartabat dan manusiawi. Bahkan mungkin jika aku menjadi pimpinan manajer di puskesmas tesebut, akan ku berhentikan kerja secara tidak terhormat mereka yang telah melanggar sumpahnya untuk menyelamatkan nyawa seseorang.
Menunggu dan menunggu hanya itu yang bisa ku lakukan di atas ranjang puskesmas yang sempit itu. Sampai pada akhirnya ada seorang perawat perempuan yang menangani lukaku saat itu. Anehnya dia tidak mengerti apa-apa tentang luka yang aku alami pasca kecelakaan itu. Dia masih mendiskusikan dengan perawat yang lain untuk menangani luka di wajah yang darahnya masih mengalir deras. Sampai pada akhirnya ada 3 perawat yang turun ikut menangani. Mereka mengambil kesimpulan agar aku dirujuk ke rumah sakit besar untuk mendapat tindakan intensif yang lebih lanjut. Luka yang kualami lumayan serius karena  mengenai wajah dan akan fatal jika ditangani secara tidak tepat. Betapa takut perasaanku saat itu saat perawat menyebut kara rumah sakit. Yang terbayang adalah jarum suntik, ruang operasi dan jahitan luka. Selama ini aku adalah perempuan yang paling takut dengan jarum suntik dokter. Setiap periksa ke dokter hanya resep obat yang diminta, bahkan melihat jarum suntik saja merengek menangis. Namun pada kesempatan kali ini aku harus siap bersahabat dengan ajrum suntik dan jahitan agar lukaku bisa teratasi dengan tepat.
Aku dirujuk dibawa ke rumah sakit besar dan mulai mendapat penanganan dari dokter. Melihat jarum suntiuk siap menyapa tubuhku, mata langsung ku pejam sembari ku genggam errat tangan ibu yang setia menunggu di sampingku saat itu. Ternyata jarum suntik tidak seseram yang ku bayangkan selama ini. Seperti digigit semut sakitnya hanya sekilas lewat setelah itu sudah tidka terasa karena aku memakai bius. Dan pasca proses jahitan luka, wajahku harus tertutup separuh oleh perban luka yang lumayan besar dan mengganggu. Mataku bengkak kebiruan dan tidak bisa terbayang saat itu betapa hancur mukaku pasca kecelakaan tragis itu.
Kecelakaan itu membuat aktivitas perkuliahanku terganggu. Selama satu minggu aku absen dari kelas karena masih dalam proses penyembuhan intensif. Bersyukur memiliki teman layaknya keluarga yang sangat peduli kepada kondisiku. Mereka saling menanyakan kabarku satu sama lain bahkan ada yang memiliki niat untuk menjenguk ku dari surabaya- ke mojokerto. Namun aku tidak mengizinkannya karena aku berfikir lukaku sudah lumayan sembuh dan tidak perlu sejauh itu menjengukku ke rumah. Hanya dengan doa dan rasa kepedulian teman-teman yang tinggi sudah cukup bagiku sebagai penghibur kesedihan saat itu. Ternyata masih banyak orang yang menyayangi dan mengasihiku Tuhan.
Absen kuliah selama satu minggu membuatku ketinggalan banyak informasi seputar kampus. Termasuk salah satu diantaranya adalah informasi tentang pendaftaran beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi bidang akademik. Sudah sejak lama ku tuis dalam daftar impianku bahwa aku harus bisa mendapat beasiswa untuk mebantu meringkakan beban orang tua dalam membiayai pendidikanku. Terlebih aku masih mempunyai seorang adik yang masih kecil dan membutuhkan banyak biaya untuk masa depannya. Sekuat tenaga aku nekat untuk tetap mendaftar beasiswa itu. Dengan kondisi yang masih belum fit aku balik ke Surabaya untuk mengurus berkas-berkas yang harus dilengkapi sebagai persyaratan beasiswa. Dan akhirnya semua selesai berkat bantuan teman-teman yang saat itu seperjuangan memperebutkan beasiswa kampus.
Sekitar dua minggu dari penutupan pendaftaran beasiswa pengumuman itu keluar. Awalnya aku tidak mengetahui info apapun tentang pengumuman mahasiswa yang lolos dalam beasiswa itu. Namun salah satu kakak kelasku memasang DP via BBM nya dengan selembar kertas bukti pengumuman. Tanpa rasa malu aku bertanya dengan mengirim personal chat mengenai apa isi pengumuman itu, dan betapa mengejutkan ketika dia memberi ucapan selamat karena ternyata namaku menajdi salah satu mahasiswa yang lolos beasiswa akademik dan berada di urutan teratas dari keseluruhan yang lolos di prodiku. Tidak ada kata lain slain ucapan syukur yang begitu besar kepada Allah yang telah memberi berkah dan kejaibannya pasca kecelakaan itu. Besok pagi aku langsung menemui pihak dosen yang bersangkutan untuk menandatangani surat perseujuan kontrak beasiswa. Dan betapa bahagianya kedua orang tuaku ketika mereka aku kirim kabar bahagia ini. Setidaknya aku bisa membahagiakan mereka walau tidak seberapa.
Dan percayalah Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan manusia. Setiap cobaan pahit yang menimpa kita apabila kita hadapi dengan hati ikhlas pasti akan berbuah keberkahan dan hikmah yang luar bisa tak terkira di akhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sarjana Manajemen Dakwah

22 Februari 2019                 Sudah satu tahun lalu berlalu, namun keinginan untuk celebrating moment lewat tulisan baru tereali...